dokterharry

situs seputar kedokteran dan kesehatan

PROGRAM COB JKN-KIS

COB Memberikan Nilai Tambahan pada Program JKN-KIS

Program jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) boleh dibilang merupakan salah satu program asuransi kesehatan social dengan manfaat terlengkap di dunia. Iuran yang sangat terjangkau, tidak ada batas usia maupun prasyarat kondisi kesehatan bagi calon peserta dan manfaat pelayanan kesehatan yang sangat lengkap.

Wajar jika kemudian banyak masyarakat yang tadinya menjadi peserta asuransi kesehatan komersial, kini beralih menjadi program JKN-KIS. Namun demikian, ada juga masyarakat yang menggunakan keduanya; menjadi peserta JKN-KIS plus membeli asuransi kesehatan komersial lainnya.

Apabila asuransi kesehatan komersial yang dibeli oleh seseorang yang juga telah terdaftar sebagai peserta program JKN-KIS memiliki kesepakatan kerjasama dengan BPJS Kesehatan selaku penyelenggara program JKN-KIS untuk sama-sama menjamin biaya pelayanan kesehatan bagi peserta apabila suatu saat ia sakit, maka kondisi ini dikatakan sebagai Coordination of Benefit atau disingkat CoB.

Pertanyaannya, apakah CoB diperlukan?

Pada sebagaian masyarakat kalangan ekonomi menengah ke atas dengan tingkat kesadaran berasuransi uang memadai, pelayanan kesehatan dasar sesuai kebutuhan medis sebagaimana ditawarkan oleh program JKN-KIS mungkin belum cukup. Rawat inap di ruang VIP, obat-obatan yang bersifat suplemen seperti vitamin, tindakan medis estetika seperti pemasangan kawat gigi, adalah beberapa contoh manfaat medis tambahan atau sering disebut beberapa top-up benefit yang tidak tersedia di dalam program JKN-KIS. Manfaat tambahan inilah yang dapat diperoleh dengan cara membeli asuransi kesehatan komersial lainnya.

Disamping itu, peserta JKN-KIS dengan CoB memiliki akses yang lebih luas terhadap fasilitas kesehatan. Peserta dapat berobat di RS swasta yang tidak bekerjasam dengan asuransi swasta yang dimiliki peserta.

Peserta program CoB bahkan dapat mengakses RS eksklusif seperti Rumah Sakit Pondok Indah, Rumah Sakit MNC, Rumah Sakit Premiere Bintaro, Rumah Sakit Puri Cinere, dan Jogjakarta Internasional Hospotal. Secara total, jumlah RS yang dapat diakses oleh peserta CoB sudah lebih dari 1000 RS di seluruh Indonesia, sebagaimana data yang disajikan oleh Kepala Grup Penelitian dan Pengembangan BPJS Kesehatan, dr. Togar Sialagan, MM.

Secara teknis, peserta Cob tetap harus mengikuti mekanisme rujukan berjenjang dalam mengakses pelayanan kesehatan. Peserta harus terdaftar di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Saat membutuhkan layanan kesehatan yang bersifat non-emergency, peserta harus datang ke puskesmas atau dokter keluarga tempat ia terdaftar terlebih dahulu. Pelayanan kesehatan oleh dokter spesialis di RS selanjutnya dapat diberikan jika ada rujukan dari FKTP.

CoB saat ini hanya berlaku untuk kasus rawat inap. Pada saat peserta membutuhkan pelayanan kesehatan rawat jalan, maka peserta harus memilih salah satu dari program asuransi yang akan ia gunakan sebagai penjamin, JKN-KIS atau asuransi komersial lain yang dimilikinya.

Jika peserta memilih menggunakan JKN-KIS, maka ia akan dilayani sesuai haknya serta sistem dan prosedur yang berlaku di dalam program JKN-KIS. Sebaiknya jika ia menggunakan asuransi komersial, maka ia akan dilayani sesuai manfaat yang tertera di dalam polis asuransi yang dibelinya.

Namun untuk kasus rawat inap, penjaminan bisa dilakukan bisa dilakukan bersama oleh BPJS Kesehatan selaku penyelenggara program JKN-KIS dan asuransi kesehatan komersial. Misal, jika hak rawat inap peserta pada program JKN-KIS adalah di kelas 1, sementara peserta ingin dirawat di kelas VIP, maka selisih biaya yang muncul dikarenakan peserta naik kelas ini dapat dijamin oleh asuransi komersialnya.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dokterharry © 2016