dokterharry

situs seputar kedokteran dan kesehatan

TES IVA BAGI PESERTA JKN KIS

“Tes IVA Tidak Seseram Yang Dikira”

Selain bisa berobat di fasilitas yang sudah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, dalam program jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) pesertanya juga bisa mendapatkan manfaat pelayanan promotive dan prevektif, seperti skrining kesehatan untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu. Salah satunya adalah pemeriksaan Inspeksi.

Visiual Asam Asesat (IVA) dan Papsmear untuk mendeteksi adanya kanker serviks pada wanita. Tidak perlu takut, prosesnya tak seseram seperti yang dibayangkan kok. Justru manfaatnya akan sangat besar bila kanker serviks ditemukan lebih dini.

Kanker serviks yang menyerang kaum wanita merupakan salah satu jinis kanker yang paling mematikan, terutama bila ditemukan dalam kondisi stadium lanjut. Panyakit ini disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) yang menyerang leher Rahim. Meski mematikan, namun kanker serviks merupakan jenis kanker yang bisa dideteksi.

Untuk mendeteksinya, digunakan metode pemeriksaan IVA dan Papsmear yang bisa dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Deteksi dini kanker serviks ini juga masuk dalam skema pembiayaan program JKN-KIS, sehingga peserta JKN-KIS yang ingin melakukan deteksi dini tidak perlu lagi mengeluarkan uang.

Belum lama ini, BPJS Kesehatan bekerjasama dengan Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja yang dipimpin Ibu Iriana Joko Widodo, Kementrian Kesehatan dan BKKBN juga melaksanakan kegiatan “Pencangan Gerakan Promotif Preventif dengan Pemeriksaan IVA dan Papsmear”. Di hari tersebut, dilakukan pemeriksaan IVA dan Papsmear secara serentak di 1.558 titik pelayanan, salah satunya di puskesmas  Ratu Agung, kota Bengkulu.

Meiriska Eka Syamsi menjadi salah satu peserta program JKN-KIS yang ikut pemeriksaan kanker serviks di puskesmas tersebut. Awalnya ibu satu anak ini mengaku enggan melakukan pemeriksaan IVA lantaran ngeri dengan prosesnya dan takut mendengar hasilnya. Namun para petugas di Puskesmas Ratu Agung cukup intens melakukan sosialisasi pentingnya mekakukan deteksi dini kanker serviks kepada warga hingga akhirnya keberanian muncul untuk melakukan deteksi dini.

“Di Puskesmas Ratu Agung, kebetulan ada kegiatan senam sehat yang rutin diadakan setiap minggu. Di kegiatan senam sehat ini, petugas puskesmas cukup sering mensosialisasikan bahaya kanker serviks dan pentingnya melakukan deteksi dini, apalagi untuk wanita yang sudah menikah seperti saya,” ujar Meiriska Eka Syasmi kepada media Info BPJS Kesehatan.

Pada stadium awal, kanker serviks biasanya tidak disertai gejala atau keluhan sama sekali. Penderitanya baru merasa sakit jika kanker serviks sudah mencapai stadum lanjut, di mana pada kondisi tersebut peluang untuk sembuhnya menjadi sangat kecil. Namun bila ditemukan pada stadium awal, proses penyembuhannya akan lebih mudah. Penjelasan yang disampaikan penjelasan yang disampaikan petugas puskesmas ini memberi pencerahan baru bagi Meiriska. Saat pencanangan gerakan pemeriksaan IVA dan Papsmear digelar, ia pun antusias menjadi bagian dari program tersebut.

“Wakti diperiksa ternyata tidak sakit seperti yang dibayangkan sebelumnya. Dokter di puskesmas juga memberikan sugesti yang menenangkan,” ungkapnya

Dari hasil pemeriksaan tersebut, Meiriska merasa lega karena hasilnya negative. Namun dokter di puskesmas tetap mengingatkan dirinya agar rutin melakukan pemeriksaan IVA atau papsmear setahun sekali.

“Alhamdulillah, hasilnya negative. Hasilnya juga langsung ketahuan saat itu juga,” tuturnya.

Selain pemeriksaan IVA, sesekali Meiriska juga menggunakan kartu BPJS Kesehatan untuk berobat di puskesmas. Ia bersyukur termasuk orang yang jarang sakit, sehingga tak sampai punya pengalaman dirawat di rumah sakit. “Kalau sakit, paling hanya demam dan batuk ringan saja yang bisa ditangani di puskesmas,” pungkasnya.

TAK LELAH MEMBERI EDUKASI…

Penanggung jawab pemeriksa IVA dan Papsmear di Puskesmas Ratu Agung, Bidan Yuhartini menjelaskan, kegiatan deteksi dini kanker serviks ini memang sudah menjadi kegiatan rutin Puskesmas ini memang sudah menjadi kegiatan rutin Puskesmas Ratu Agung. Apalagi sebelum pemeriksaan IVA dan Papsmear untuk mendeteksi kanker serviks merupakan bagian dari program pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) yang digagas Kementerian Kesehatan.

Dikatakan Yuhartini, sosialisasi mengenai bahaya kanker serviks dan pentingnya melakukan deteksi dini tidak hanya dilakukan di puskesmas, tetapi juga di posyandu dan posbindu. “Setiap kader memang diminta untuk menyebarkan informasi ini kepada warga. Dari mulut ke mulut, informasinya menyebar ke  banyak warga,” ujarnya.

Diakui bidan yang biasa disapa Atin ini, pada awalnya memang cukup sulit mengajak warga yang sudah pernah melakukan hubungan intima tau sudah menikah untuk melakukan pemeriksaan IVA dan papsmear. Namun dengan semakin banyaknya informasi yang disampaikan mengenai kanker serviks, kesadaran warga untuk melakukan deteksi dini terlihat semakin meningkat.

“Yang takut diperiksa memang masih ada. Bahkan ada warga yang sudah masuk ke ruangan pemeriksaan, eh tiba-tiba nggak jadi. Tapi semakin hari, saya lihat kesadaran masyarakat sudah tinggi. Kalau dulu ngumpulin 10 warga saja untuk tes IVA susahnya bukan main, tapi sekarang mereka sudah datang sendiri. Malahan kadang petugasnya yang kewalahan,” ujar Atin.

Dari kegiatan deteksi dini yang dilakukan di Puskesmas Ratu Agung, ditemukan beberapa peserta JKN-KIS yang ternyata positif mengidap kanket postif tahap awal. Peserta tersebut kemudian mendapatkan terapi krioterapi, yaitu metode pengobatan kanker serviks dengan melakukan perusakan sel-sel pra kanker dengan cara dibekukan. Namun untuk yang kondisi kanker serviksnya sudah parah, puskesmas harus merujuk ke rumah sakit.

“Dari pemeriksaan yang kami lakukan, beberapa memang ada yang harus ditindak lanjuti. Malahan ada satu warga yang ternyata sudah sampai stadium lanjut dan tidak bisa tertolong lagi. Memang sempat kami rujuk ke rumah sakit di Jakarta, tapi akhirnya tidak tertolong lagi. Inilah yang kami sesalkan. Padahal kalau saja mau periksa lebih dini saat kankernya belum parah, tentu penyakitnya itu bisa lebih mudah disembuhkan,” pungkas Atin.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dokterharry © 2016 dokterharry.com