dokterharry

situs seputar kedokteran dan kesehatan

KIWI MENGANDUNG ACTINIDIN

Kiwi Mengandung Actinidin, Amankan Pencernaan

Untuk menjaga kesehatan tubuh, para ahli kesehatan menyarankan agar kita mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari. Semua buah bagus bagi kesehatan, bermanfaat, dan ada juga yang memiliki khasiat tertentu. Tetapi ada buah yang kini semakin dikenal masyarakat bahkan sudah sampai ke desa yaitu kiwi.

Buah kiwi kini tidak hanya tersedia di supermarket di kota besar tetapi sudah ada di gerai buah di pinggir jalan. Namun, sebagian masyarakat masih berpikir dua kali untuk membeli buah kiwi. Karena buah asal China yang  dibudaya di Selandia Baru itu masih dinilai mahal bagi sebagian masyarakat.

Padahal buah kiwi yang bulat oval seperti sawo tapi kulitnya berbulu ini, ternyata mengandung vitamin C yang tinggi dan sangat aman bagi penderita diabetes, dapat menjaga tubuh tetap langsing, dan tetap bugar. Jika sudah mengetahui kelebihan buah kiwi, soal harga bisa menjadi nomor dua.

Seperti diungkapkan pakar gizi dari Departemen Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Fiastuti Witjaksono, SpGK, bahwa buah kiwi memiliki vitamin C dua kali lebih tinggi daripada jeruk. Selain itu, kiwi juga memiliki indek glikemik rendah, sehingga memperlambat penyerapan gula ke dalam darah. Oleh karenanya aman bagi penderita diabetes. Dan kiwi juga aman dan sangat baik dikonsumsi ibu yang sedang hamil karena mengandung asam folat.

Oleh karenanya, sangat tepat memilih buah kiwi disajikan di kapan saja, baik saat puasa, lebaran, bahkan untuk dikonsumsi sehari-hari. Nutrisi sangat penting untuk menjaga vitalitas tubuh. Tetapi nutrisi akan percuma dikonsumsi jika nutrisi tersebut tidak bisa dicerna dan diserap dengan baik oleh tubuh. Dapat bermanfaat dengan baik, maka sistem pencernaan kita harus baik, meskipun saat kita berpuasa. “Semua buah baik dikonsumsi, tetapi memang buah kiwi mengandung serat yang tinggi,” ujarnya.

Sekaitan dengan sistem pencernaan, ternyata buah kiwi, utamanya kiwi hijau mengandung enzim actinidin yang dapat mengurai protein dan mencernanya sehingga protein lebih mudah diserap tubuh. Protein dibutuhkan tubuh antara lain untuk memperbaiki sel-sel yang rusak.

Kandungan actinidin di dalam buah kiwi melengkapi kandungan nutrisi yang dapat menyehatkan saluran cerna bagi orang yang mengkonsumsinya secara rutin. Saluran cerna yang sehat, menurut Fiastuti, dapat mencegah masuknya bakteri, racun, dan dapat menjaga daya tahan tubuh tetap tangguh.

Dia menyarankan setiap hari mengkonsumsi dua buah kiwi, karena kiwi mengandung serat tinggi, prebiotic, enzim actinidin, vitamin, mineral, dan anti oksidan, serta mempunyai indek glikemik rendah. Selain itu, enzim actinidin yang terdapat pada buah kiwi dapat mencerna protein secara maksimal sehingga lebih mudah diserap tubuh, baik di lambung maupun di usus halus. Efeknya, perut terasa kenyang lebih lama.

Sedangkan kandungan serat pada buah kiwi hijau sangat tinggi dibandingkan jenis buah lain seperti pisang, apel, dan jeruk. Buah apel hanya mengandung 2,4 nilai serat per 100 gramnya, sedangkan kandungan serat kiwi hijau mencapai 3 per 100 gram. Serat bermanfaat untuk menjaga kesehatan saluran cerna, mencegah konstipasi, mejaga kadar lemak darah dan kadar glukosa darah, serta mampu menjaga agar tidak cepat lapar.

Ada dua jenis serta pada buah kiwi yaitu serat larut dan serat tidak larut. Serat larut berfungsi menjaga kadar gula darah tetap stabil karena dapat memperlambat penyerapan gula ke dalam darah, sehingga kadar gula lebih terkendali, karena serat larut dapat mengikat lemak.

Sedangkan, serat tidak larut bermanfaat untuk menjaga kesehatan usus dan mencegah konstipasi (sulit buang air besar). Prebiotik dalam kiwi dapat memberi makan bakteri baik. Ini artinya, buah kiwi dapat membantu fungsi usus sebagai pencerna makanan sekaligus mejaga kesehatan usus dan lambung , sehingga bakteri jahat dan racun yang akan masuk ke dalam tubuh dapat dicegah.

Apapun yang disampaikan Friastuti, diperkuat dengan dua hasil penelitian laboratorium dan satu penelitian dengan percobaan pada bidang yang dilakukan oleh Riddet Institute, Massey university dan Zespri sebagai sumber enzim actinidin. Penelitian ini menggunakan sebuah metode penelitian laboratorium untuk melihat pencernaan di lambung dan usus.

Kiwi hijau dengan indeks glikemik yang rendah, bahkan, lebih rendah dibandingkan dengan jeruk, pisang, dan manga, Sehingga membantu menjaga kadar gula darah stabil, dan menjaga rasa kenyang yang lebih lama. Oleh karena itu, kiwi hijau sangat bagus apabila dikonsumsi oleh penderita diabetes atau kencing manis.

Peneliti menggunakan berbagai makanan sumber protein seperti daging sapi, protein susu (whey protein), susu kedelai, protein gandum (gluten) protein dari jagung, kolagen dan gelatin. Kemudian makanan itu dicoba dicerna dengan simulasi pencernaan lambung dan usus dengan diberi tambahan acinidin, yang berasal dari ekstrak buah kiwi. Hasil yang diujicoba pada tikus, kandungan actinidin dan serat pada kiwi dapat membantu pencernaan protein lebih baik, dan dapat mengendalikan kadar gula, lemak darah dan menjaga kesehatan usus.

Nah, khusus ibu hamil (bumil) pun aman mengkonsumsi kiwi karena mengandung mineral dan vitamin sehingga mampu menjaga bumil dari penyakit berbahaya. Jika ibu sehat, maka pertumbuhan janin pun akan baik. Asupan nutrisi  bumil sangat berpengaruh pada pertumbuhan janin di dalam rahim.

Kandungan asam folat yang tinggi dalam buah kiwi akan menjadi gizi utama bagi perkembangan saraf dan kecerdasan janin. Sehingga dengan makan buah kiwi secara rutin dalam masa kehamilan dipercaya dapat mencegah bayi lahir dalam keadaan cacat saraf atau mental.

Selain itu, kandungan serat yang tinggi dalam buah kiwi akan melancarkan sistem serat yang tinggi dalam buah kiwi akan melancarkan sistem penceranaan sekaligus mengurangi masalah kembung bumil. Serat dalam kiwi juga mengatasi masalah sembelit yang menyerang ibu hamil muda pada umumnya. Maka sangatlah tepat jika bumil mengkonsumsi buah kiwi, karena kandungan serat yang tinggi bisa menjaga berat badan tidak terlalu gemuk atau obesitas semasa kehamilan.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dokterharry © 2016