dokterharry

situs seputar kedokteran dan kesehatan

Benarkah Mekanisme Rujukan JKN-KIS Rumit?

Sebagian orang menilai program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) rumit karena peserta harus mengikuti mekanisme rujukan berjenjang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Rujukan itu dinilai ‘menghambat’ peserta untuk mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKRTL) seperti RS.

Bisa jadi pandangan itu benar, karena selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia terbiasa pelayanan kesehatan langsung ke RS. Dengan begitu mereka merasa mendapat pelayanan kesehatan yang memuaskan.

Tapi bisa jadi pendapat itu salah karena tidak semua diagnosa penyakit harus di tangani RS. Sebab, Fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti Puskesmas, Klinik, dan dokter praktek perorangan idealnya bisa menangani ratusan penyakit, mencapai 144 diagnosis.

Sistem asuransi social yang digunakan dalam JKN-KIS menggunakan managed care  yaitu kombinasi antara pembiayaan dengan mutu pelayanan. Sistem itu mengoptimalkan setiap jenjang pelayanan kesehatan lewat mekanisme rujukan.

Lewat mekanisme rujukan berjenjang, diharapkan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta sesuai dengan kompetensi tenaga kesehatan, kapasitas ataupun kemampuan fasilitas kesehatan. Rujukan berjenjang itu menguntungkan peserta, selain fasilitas dan tenaga kesehatan bisa menjalankan tugasnya secara optimal. Peserta tidak perlu mengantri terlalu lama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di FKRTL.

Rujukan berjenjang diyakini mampu memangkas antrian peserta di RS karena FKTP jadi garda terdepan pelayanan. Peserta yang dirujuk ke FKRTL, yaitu mereka yang membutuhkan penanganan lebih lanjut atau diluar kompetensi FKTP

Peserta yang dirujuk oleh FKTP ke FKRTL itu harus berjenjang, mulai dari RS tipe D atau C kemudian B atau A. sistem rujukan berjenjang itu menguntungkan peserta, sebab peserta yang membutuhkan penangan dokter spesialis atau sub spesialis di FKRTL bisa segera dilayani karena tidak perlumengantri panjang.

Misalnya, ada 100 peserta JKN-KIS yang menganri di RS tipe A. dari jumlahnya itu antrian nomor 1 sampai 95 sebenernya bisa ditangani di FKTP. Sedangkan, nomor antrian 96 sampai 100 diagnosa penyakitnya tida dapat diatasi FKTP sehingga butuh penanganan FKRTL.

Dengan rujukan berjenjang, peserta antrian nomor 1-95 itu mestinya bisa dilayani di FKTP. Jika itu bisa dilakukan maka peserta dengan antrian nomor 96-100 bisa mendapat penangan segera kerena tidak perlu megantri terlalu lama.

Penting untuk diingat, rujukan berjenjang itu tidak diterapkan secara kaku, mengecu peraturan perundang-undangan peserta yang mengalami gawat darurat bisa menyambangi FKRTL terdekat.

Rujuk Balik

Dalam program JKN-KIS, ada skema pelayanan yang dikenal dengan istilah rujuk balik. Itu ditujukan bagi peserta yang mengalami diagnosa penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi. Mekanisme pelayanannya, peserta yang mendapat diagnosa penyakit kronis itu dirujuk FKTPke FKRTL untuk mendapat tindakan medis lanjutan.

Selesai mendapat pelayanan, FKRTL merujuk balik it uke FKTP tempat peserta terdaftar. Selama tiga bulan kemudian, peserta hanya perlu mengambil obat-obatan yang diperlukan ke FKTP yang bersangkutan, dengan begitu peserta tidak perlu mengantri llagi di FKRTL. Usai menjalani program rujuk balik selama 3 bulan, peserta bisa melakukan control ulang ke FKRTL sebelumnya.

 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dokterharry © 2016 dokterharry.com