dokterharry

situs seputar kedokteran dan kesehatan

VAKSINASI INFLUENZA BAGI ORANG DEWASA

Penting Vaksin Influenza untuk Dewasa. Vaksin influenza penting dan perlu dilakukan, terutama pada mereka yang memiliki risiko tinggi. Program vaksinansi influenza terbukti mengurangi transmisi di masyarakat. Influenza merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menyebabkan epidemi mau pun pendemi. Di negara subtropics, angka kejadian influenza meningkat dan dapat menyebabka kejadian luar biasa hampir di setiap musim dingin tiba.

Di Amerika Serikat, influenza menyebabkan ± 20.000 kematian/tahun. Kelompok penderita influenza terbanyak adalah anak-anak, tetapi komplikasi dan kematian tertinggi terjadi pada usia > 65 tahun dan yang memiliki risiko tinggi.

Pada anak usia 0-4 tahun, angka rawat inap rumah sakit adalah 1:1000 anak sehat, dan 1:2000 anak dengan penyakit dasar. Angka rawat inap rumah sakit pada bayi sama dengan orang usia >65 tahun. Rata-rata rawat inap akibat influenza adalah 114.00/tahun. Tingginya risiko komplikasi, rawat inap rumah sakit dan kematian yang terjadi pada usia >65 tahun, anak-anak kecil, dan orang dengan penyakit dasar mendorong Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP), pada tahun 2002 menyusun rekomondasi mengenai imunisasi influenza.

“Cara paling efektif untuk mencegah influenza atau komplikasi lain yang timbul dari penyakit ini, adalah melalui vaksinasi. Cara ini dapat mencegah hingga 70-90% resiko terkena influenza pada orang dewasa sehat, 60% pada lanjut usia dan menurunkan resiko kematian hingga 80%,” ujar Prof. Dr.dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD-KAI, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Ketua Satgas Imunisasi Dewasa.

Patofisiologi Virus Influenza

Virus influenza adalah virus RNA, termasuk family orthomyxo virus, berantai tunggal dan berbentuk heliks. Sesuai dengan antigen dasarnya, dibagikan menjadi tiga tipe yaitu: A,B, dan C. Virus ini dibagi menjadi beberapa subtype, berdasarkan antigen  permukaannya, yaitu hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N). Tiga tipe hemagglutinin yang ada pada manusia (H1,H2,H3), berperan dalam penempelan virus pada sel.

Dua tipe neuraminidase (N1,N2) berperan dalam penetrasi virus ke dalam sel. Variasi kedua glikoprotein eksternal H dan N, ada kalanya berubah secara periodik, menyebabkan perubahan antigenitas. Antigenitas Shift merupakan perubahan besar (major) salah satu antigen permukaan (H atau N), yang dapat menyebabkan pandemic. Antigenic drift  merupakan perubahan kecil (minor) pada antigen permukaan, yang timbul di antara major shift dan bisa dihubungkan dengan epidemi (Pickering dkk.,2000)

Influenza tipe A menyebabkan penyakit sedang-berat, dan dapat menyerang semua umur. Virus ini menyerang manusia dan binatang lain, seperti babi dan burung. Influenza tipe B biasanya menyebabkan penyakit yang lebih ringan dari pada tipe A, dan terutama menyerang anak-anak. Influenza tipe B lebih stabil dari pada influenza tipa A, dengan sedikit antigenic drift dan menyebabkan imunitas yang cukup stabil. Virus ini hanya menyerang manusia. Influenza tipe C dilaporkan jarang menyebabkan sakit pada manusia, mungkin karena sebagian besar kasus  bersifat subklinis dan tidak menyebabkan epidemi.

Virus influenza mempunyai kemampuan untuk mengubah antigen. Perubahan antigen ini sering terjadi pada influenza tipe A, kurang pada tipe B, dan tidak pernah pada tipe C. perubahan terjadi pada antigen permukaannya yaitu H dan N. Terdapat dua macam mutase, tergantung besar kecilnya perubahan RNA, yaitu:

  • Antigenic shift, hanya terjadi pada influenza tipe A; perubahan genetik yang besar dan mendadak pada HA dan/atau NA ; tidak ada imunitas di masyarakat; mengakibatkan pandemic setiap 10-40 tahun sekali.
  • Antigenic drift, hanya terjadi pada influenza tipe A dan B; terjadi setiap satu atau beberapa tahun dalam satu subtipe; mutase ppada asam amino RNA; tidak menghasilkan subtipe baru; dan dapat menyebabkan terjadinya epidemi.

Aktivitas influenza timbul terutama pada musim dingin, dan mencapai puncaknya pada Desember sampai Maret di daerah yang beriklim subtropis tetapi dapat pula timbul lebih awal atau lebih lambat. Selama tahun 1976-2001, di Amerika Serikat, aktivitas puncak timbul paling sering pada bulan Januari (24%) dan Februari (40%), dan rata-rata terjadi 20.000 kematian per tahun. Di daerah tropis, influenza dapat menyebabkan pandemic, bila angka morbiditas dan mortalitas komplikasi akibat influenza meningkat secara bermakna di seluruh dunia.

Influenza dapat menyerang semua kelompok umur. Angka kejadian infeksi tertinggi adalah pada anak-anak, sedangkan angka kejadian penyakit serius dan kematian tertinggi, ada pada orang usia >65 tahun dan orang yang berisiko tinggi menderita komplikasi akibat influenza.

Pada kelompok usia 0-4 tahun, angka perawatan rumah sakit tertinggi adalah anak umur 0-1 tahun. Angka ini sama dengan angka yang ditemukan pada orang usia >65 tahun. Selama epidemi influenza tahun 1969-1970 sampai 1994-1995, angka perawatan rumah sakit di Amerika Serikat berkisar antara 16.000-220.000 per epidemi, rata-rata 114.000 pertahun perawatan, dengan 57% dari yang dirawat adalah usia 65 tahun.

Sejak pandemic virus influenza tipe A pada tahun 1968, terjadi peningkatan angka perawatan rumah sakit akibat influenza selama epidemi yang disebabkan virus influenza tipe A, dengan perkiraan rata-rata 142.000 per tahun. Kematian akibat influenza dapat disebabkan oleh pneumonia, atau eksaserbasi penyakit kardiopulmonal dan penyakit kronik lainnya. Pada penelitian epidemi influenza yang terjadi dari tahun 1972-1973 sampai 1994-1995, kematian terjadi selama 19 dari 23 epidemi influenza. Selama 19 musim influenza tersebut, perkiraan angka kematian akibat influenza. Selama 19 musim influenza tersebut, perkiraan angka kematian akibat influenza kira-kira 30-150 per 100.000 orang usia >65 tahun. Lebih dari 90% kematian adalah oorang lanjut usia karena pneumonia dan influenza. Gejala influenza dapat berupa:

  • Demam mendadak disertai menggigil
  • Sakit kepala
  • Badan lemah
  • Nyeri otot dan sendi

Gejala influenza bertahan selama 3 -7 hari. Bila influenza bertambah berat, gejala tersebut akan berganti dengan gejala penyakit saluran pernafasan seperti batuk, pilek dan sakit tenggorokan. Kadang-kadang diertai gejala sakit perut, mual dan muntah. Pada pemeriksaan fisik: muka kemerahan, mata kemerahan dan berair serta kelenjar getah bening leher dapat teraba.

Komplikasi demam influenza

Komplikasi penyakit influenza yang ditakutkan adalah timbulnya infeksi sekunder, seperti: radang paru-paru (pneumonia), myositis, sindroma Reye, gangguan saraf pusat. Di samping itu, penderita penyakit kronis dapat bertambah berat, bila terkena penyakit influenza. Beberapa penyakit kronis tersebut misalnya asma, paru-paru kronis, jantung, kencing manis, ginjal kronis, gangguan status imunitas tubuh, dan kelainan darah.

Imunisasi Influenza

Imunisasi influenza merupakan salah satu strategi untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas, akibt penyakit influenza.  Keuntungan terbesar imunisasi ini adalah bagi orang yang memiliki risiko tinggi menderita influenza berat dan komplikasinya.

Di Jepang, pelaksanaan program imunisasi influenza pada anak sekolah mencegah 37.000-49.000 kematian pertahun, atau sekitar 1 kematian untuk setiap 420 anak yang diimunisasi. Program ini mengurangi angka transmisi infeksi dalam masyarakat.

Imunisasi influenza cukup bermanfaat, namun sosialisasi penerapan imunisasi di masyarakat sejauh ini hanya sedikit meningkatkan penggunaan vaksin. Penyakit influenzaoleh banyak orang dianggap sebagai penyakit yang ringan. Padahal, influenza pada kelompok risiko tinggi dapat menyebabkan komplikasi dan kematian. Menyadari keadaan ini, pada tahun 1999 American Family of Physician (AFP) menurunkan umur penggunaan imunisasi mulai pda usia 50 tahun. The Advisory Committee of Imumunization Practice (ACIP) juga merekomondasikan imunisasi dimulai pada usia 50 tahun.

Di Indonesia imunisasi influenza sudah dilakukan, namun pemberiannya masih terbatas bagi jamaah haji sebelum berangkat ke Arab Saudi. Hal itu sesuai anjuran Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI, tahun 2000. Imunisasi influenza pada jamaah haji hanya dianjurkan pada kelompok berisiko tinggi, seperti jamaah usia >65 tahunm memiliki penyakit jantung, paru kronik, diabetes mellitus dan jamaah yang sistem imunnya terganggu.

Sampai saat ini, belum terdapat laporan resmi regional mau pun nasional mengenai insidens, angka morbiditas dan mortalitas influenza karena sebagian besar orang masih menganggap influenza merupakan penyakit ringan. Imunisasi influenza masih merupakan kontroversi, baik dari waktu pemberian, sasaran pemberian maupun  cost effectiveness bila diterapkan di Indonesia.

Rekomondasi yang dimuat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam buku Imunisasi di Indonesia, imunisasi diberikan ppada anak dengan kelainan jantung bawaan serta penyakit kronik lainnya, serta yang mendapat terapi imunosupresif. Sementara consensus Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia  (PAPDI) menganjurkan penggunaan imunisasi influenza pada orang yang berusia 50  tahun atau lebih, atau pada orang lebih muda yang mempunyai penyakit kronik.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dokterharry © 2016 dokterharry.com