dokterharry

situs seputar kedokteran dan kesehatan

IMUNISASI PADA ORANG DEWASA

Imunisasi dewasa belum popular di negara berkembang seperti Indonesia. Padahal, dapat mencegah kematian 100x lipat dibandingkan imunisasi anak. Imunisasi. Mendengar istilah ini, gambaran yang muncul adalah pemberian vaksin pada bayi dan anak. Sesungguhnya, imunisasi tidak semata untuk bayi dan anak. Orang dewasa pun, sebenarnya, membutuhkan imunisasi.

Selama ini berkembang asumsi bahwa tubuh orang dewasa sudah terbentuk sempurna, sehingga tidak lagi memerlukan vaksinasi. Ternyata dengan bertambahnya usia seseorang, sIstem kekebalan tubuh menurun sehingga dibutuhkan imunisasi untuk membentengi tubuh dari serangan penyakit.

Pada pertemuan tahunan American Society of Internal Medicine di Atlanta, Amerika Serikat, tahun 2001 diungkapkan bahwa imunisasi pada orang dewasa dapat mencegah kematian seratus kali lipat dibandingkan dengan anak. Imunisasi memang tak hanya bermanfaat untuk anak, tapi juga bermanfaat untu orang dewasa.

Menurut Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI, dari devisi Alergi Imunologi Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta, “Imunisasi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga kelak bila terpajan pada antigen serupa, pada individu tersebut tidak terjadi penyakit.”

Imunisasi dewasa di Indonesia berjalan dalam skala kecil, dan baru melibatkan kegiatan imunisasi yang masih terbatas seperti Hepatitis B, Hepatitis A, demam Tifoid, Meningokok dan Influenza. Kedua vaksin yang terakhir, terutama diberikan pada calon Jemaah haji.

Bermacam vaksin

  1. Vaksin yang dilemahkan (attenuated live vaccine) : viabilitas dan daya infeksi kuman atau virus dilemahkan, namun mampu menumbuhkan respons imun. Vaksin ini dapat berasal dari keseluruhan organisme atau bagian dari organisme. Contohnya vaksin polio oral.
  1. Vaksin yang telah dimatikan (bakteri, virus atau riketsia) : berasal dari mikroorganisme yang telah dimatikan. Respon imun yang timbul lebih lemah daripada vaksin hidup, sehingga biasanya memerlukan imunisasi ulang. Contohnya kolera, pertussis.
  1. Vaksin Subunit: Berasal dari bagian organisme misalnya komponen kapsul bakteri (streptococcus pneumoniae). Keuntungan vaksin ini aman diberikan pada anak, menghindari vaksin yang virulen.
  2. Vaksin toksoid, dibuat dari bahan toksin bakteri: tidak toksis namun dapat merangsang pembuatan antibody. Contohnya tetanus, difteri.
  1. Vaksin konyugat: Vaksin polisakarida murni kurang imunogenik untuk anak dibawah usia 2 tahun. Untuk meningkatkan imunogenisitas polisakarida dikonyugasikan dengan protein karier, sehingga dapat meningkatkan respons imun.

Pendekatan baru pembuatan vaksin

  1. Vaksin rekombinan

Satu atau lebih gen yang mengkodedeterminan penting imunitas pada mikrooganisme, diinsersikan ke vector. Vector yang biasa digunakan adalah virus (poxivirus vaccinia, canarypox, adenovirus) dan bakteri (Salmonella), contoh vaksin Hepatitis B.

  1. Vaksin DNA

Berasal dari asam nukleat yang mengkode antigen penting. Masih dalam penelitian dan dikembangkan untuk memroduksi vaksin influenza, HIV dan Herpes simpleks

Untung rugi vaksin hidup dan inaktif

Keuntungan vaksin hidup:

    1. Proteksi lama setelah vaksinasi satu kali.
    2. Merangsang pembentukan system imun secara luas, termasuk respon sel T dan respons mukosa IgA.
    3. Menyebarluaskan imunitas herd (menimbulkan imunitas pada orang yang tidak divaksinasi)

Kerugian vaksin hidup :

    1. Dapat menimbulkan penyakit pada orang imunkompromais yang tak terdiagnosis.
    2. Dapat berubah menjadi virulen.
    3. Tak dapat dilakukan imunisasi pada bayi, yang masih mempunyai antibody ibu.
    4. Untuk mempertahankan potensi, perlu penyimpanan dan transportasi pada suhu 40oC atau sangat rendah, (contoh : vaksin polio oral harus disimpan pada suhu 20oC).
    5. Lebih reaktogenik.

Keuntungan vaksin inaktif:

    1. Perlu penggunaan berulang untuk mempertahankan proteksi.
    2. Rangsangan imunitas seluler dan mukosa kurang.
    3. Pada keadaan tertentu, dapat menimbulkan penyakit karena imbalans respons imun.

Indikasi

Menurut Dr. Iris, indikasi penggunaan vaksin pada orang dewasa didasarkan pada beberapa hal. Di antaranya : riwayat paparan, risiko penularan, usia, lanjut, imunokompromais, pekerjaan, haya hidup dan rencana bepergian.

    • Riwayat paparan : Tetanus, Toksoid, Rabies
    • Risiko penuliaran : Influenza, Hepatitis A, Tifoid, MMR.
    • Usia lanjut : Pnuemokok, Influenza.
    • Risiko pekerjaan : Hepatitis B, Rabies.
    • Imunokompromais : Pneumokok, Influenza B, Hemophilus influenza tipe B.
    • Rencana bepergian : Yellow faver, Japanese B encephalitis, Tifoid, Hepatitis A.
    • Jemaah haji : Meningokok ACYW 135, Influenza.

 

Indikasi imunisasi pada daftar ini dibuat lebih luas, karena pada imunisasi dewasa belum ada program yang dibiayai pemerintah. Karena itu, penggunaan indikasi ini perlu mempertimbangkan keadaan individu yang akan diimunisasi. Untuk calon haji, imunisasi meningokok merupakan keharusan, begitu juga imunisasi Yellow fever untuk berpergian ke Afrika Selatan. Imunisasi pada usia lanjut, perlu mendapat perhatian. Data tentang manfaat dan cost effective. Selain itu, imunisasi pada Hepatitis B perlu mendapat perhatian, karena tingginya risiko penularan Hepatitis B di kalangan petugas kesehatan.

Manfaat Imunisasi pada Orang Dewasa

Manfaat vaksin pada orang dewasa di Indonesia, datanya masih terbatas. Data di negara maju menunjukkan, efektivitas vaksin Hepatitis B dalam mencegah penyakit 80-95%. Efektivitas ini menurun pada kelompok lanjut usia. Vaksin influenza dapat menurunkan insidens influenza 70-90%. Sedangkan efektivitas vaksin pnemokok 60-64%. Pada kelompok usia di atas 65 tahun, efektivitas vaksin ini 44-61%. Vaksin campak akan menimbulkan imunitas yang bertahan lama, pada sekitar 95% orang yang divaksin. Jika vaksinasi diulang, imunitas akan timbul pada 90% non responder. Vaksin gondongan akan menurunkan insiden penyakit 75-95%. Begitu pula rubella, efektivitasnya hampir menyamai  campak. Vaksin tetanus jika digunakan secara benar, dapat mencegah tetanus 100% dan vaksin difteri 85%.

Cukupan imunisasi dewasa

Meski manfaat imunisasi dewasa nyata, cakupan imunisasi dewasa di negara maju sekali pun masih rendah. Cakupan Hepatitis B berkisar antara 1-60% (rata-rata 10%). Antibodi terhadap tetanus yang adekuat, hanya ditemukan pada 40% orang dewasa. Rendahnya cakupan ini disebabkan oleh kepedulian petugas kesehatan yang belum optimal, kurangnya pemahaman mengenai manfaat, pedoman yang beraneka ragam dan rumit, layanan yang belum merata dan kurangnya dukungan pembiayaan. Namun, dengan pemahaman yang baik mengenai manfaat imunisasi dewasa, negara berkembang seperti Kuba mampu menyelenggarakan imunisasi dewasa yang cakupannya cukup luas.

Jenis Imunisasi pada Orang Dewasa

  1. Tetanus dan Diphteria (Td)

Seluruh orang dewasa harus mendapat vaksinasi lengkap 3 dosis seri primer dari difteri dan toksoid  tetanus; 2 dosis diberikan paling tidak dengan jarak 4 minggu, dosis ketiga diberikan 6-12 buan setelah dosis kedua. Jika orang dewasa belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri, diberikan seri primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun. Macam vaksin: Toksoid. Efektivitas 90% rute Suntikan intra muscular.

  1. Measles, Mumps, Rubella : (MMR)

Orang dewasa yang lahir sebelum 1957, dianggap telah mendapat imunitas secara alamiah. Orang dewasa yang lahir tahun 1957 atau sesudahnya, perlu mendapat 1 dosis vaksin MMR. Beberapa kelompok orang dewasa berisiko terpapar, mungkin memerlukan 2 dosis, diberikan tidak kurang jarak 4 minggu. Misalnya mereka yang bekerja di fasilitas kesehatan dan yang sering  melakukan perjalanan. Macam vaksin : vaksin hidup. Efektivitas : 90-95%. Rute suntikan: subcutan.

  1. Influenza

Vaksinasi influenza dilakukan setiap tahun bagu orang dewasa usia 50 tahun; penghuni rumah jompo dan penghuni fasilitas-fasilitas lain dalam waktu lama (misalnya biara, asrama dsb); orang muda dengan penyakit jantung, paru kronis, penyakit metabolism (termasuk diabetes), disfungsi ginjal, hemoglobinopati atau immunosupresi, HIV juga untuk anggota rumah tangga, perawat dan petugas-petugas kesehatan. Vaksin ini juga dianjurkan untuk calon Jemaah hari karena risiko paparan yang cukup tinggi. Di Amerika Serikat dan Australia, imunisasi influenza telah dijadikan program sehingga orang yang berumur 65 tahun atau lebih mendapat layanan imunisasi influenza  melalui program pemerintah. Macam vaksin: vaksin split dan subunit. Efektivitas 88-89%. Rute Suntikan: intramuscular. Catatan: vaksin ini dianjurkan untuk dewasa usia 50 tahun bagi individual, sedangkan untuk program usia 65 tahun.

  1. Pneumokok

Vaksin polisakarida pneumokok diberikan pada orang dewasa usia > 65 tahun dengan penyakit kardiovaskular kronis, penyakit paru kronis, diabetes mellitus, alkoholik chirrosis, kebocoran cairan serebo spinal, asplenal anatomic atau fungsional, infeksi HIV, leukemia, penyakit limfoma Hodgkins, myeloma berganda, malignansi umum, gagal ginjal kronis, gejala nefrotik, atau mendapat kemoterapi imunosupresif atau mendapat  Vaksinasi Pneumo 23 valensi tidak dianjurkan; tetapi, revaksinasi dianjurkan jika vaksinasi sebelumnya sudah >5 tahun. Juga yang berusia  <65 tahun ketika divaksinasi terdahulu, dan sekarang > 65 tahun. Dan merupakan individu berisiko tinggi terjadinya infeksi pneumokok yang serius, sesuai deskripsi Advisory Committee on Immunization Practice (ACIP). Individu yang mempunyai tingkat antibody yang cepat turun. Macam vaksin: polisakarida. Efektivitas 90%%. Rute Suntikan: intramuscular atau subcutan.

  1. Hepatitis A

Vaksin Hepatitis A diberikan dua dosis, dengan jarak 6-12 bulan pada individu berisiko terjadinya infeksi virus Hepatitis A. Seperti, penyaji makanan (food handlers) dan mereka yang menginginkan imunitas, populasi yang berisiko tinggi, misalnya: individu yang sering melakukan perjalanan atau bekerja di negara yang mempunyai prevalensi tinggi Hepatitis A, homoseksual, pengguna narkoba, penderita penyakit hati, individu yang bekerja dengan hewan primate terinfeksi Hepatitis A atau peneliti virus Hepatitis A. Macam vaksin: antigen virus inaktif. Efektivitas 94-100%. Rute intramuscular.

  1. Hepatitis B

Dewasa yang beriskiko terinfeksi Hepatitis B: Individu yang terpapar darah atau produk darah dalam kerjanya, klien dan staff institusi pendidikan, pasien hemodialysis, penerima konsentrat factor VIII atau IX, rumah tangga atau kontak seksual dengan individu yang teridentifikasi positif HBsAg-nya, individu yang berencana pergi atau tinggal di suatu tempat  di mana infeksi Hepatitis B ada, pengguna obat injeksi, homoseksual/biseksual aktif, individu heteroseksual aktif dengan oasangan berganti-ganti atau baru terkena PMS, fasilitas penampungan korban narkoba, individu etnis kepulauan Pasifik atau imigran/pengungsi baru di mana endemisitas daerah asal sangat tinggi/lumayan tinggi. Berikan 3-dosis dengan jadwal 0,1 dan 6 bulan. Bila setelah imunisasi terdapat repons yang baik, tidak perlu dilakukan pemberian imunisasi penguat (booster). Macam vaksin: Antigen virus inaktif. Efektivitas 75-90%. Rute suntukan intramuscular.

  1. Meningokok

Vaksin meningokok polisakarida tetravalen (A/C/Y/W-135) wajib diberikan kepada calon haji. Juga dianjurkan untuk individu defisiensi komponen, pasien asplenia anatomic dan fungsional, dan pelancong ke negara di mana terdapat epidemi penyakit meningokok: musalnya  “Meningitis belt” di sub-sahara Afrika. Pertimbangkan vaksinasi ulang setelah 3 tahun. Macam vaksin: Polisakarida inaktif. Efektivitas 90%, Rute suntikan subcutan.

  1. Varisela

Vaksin varisela diberikan pada individu yang akan kontak dekat dengan pasien, yang berisiko tinggi terjadinya komplikasi (misalnya petugas kesehatan dan keluarga yang kontak dengna individu imunokompromais). Pertimbangkan vaksinasi bagi mereka yang berisiko tinggi terpapar virus varisela, seperti yang pekerjaannya berisiko (misalnya guru, petugas kesehatan dan residen, serta staf di lingkungan institusi), mahasiswa, penghuni serta staf institusi penyadaran (rehabilitasi) anggota militer, wanita usia subur yang belum hamil, dan mereka yang sering melakukan perjalanan kerja/wisata. Vaksinasi terdiri dari 2 dosis, diberikan dengan jarak 4-8 minggu. Macam vaksinasi: virus hidup dilemahkan. Efektivitas 86%. Rute suntikan subcutan.

  1. Demam Tifoid

Dianjurkan bagi pekerja jasa boga, wisatawan yang berkunjung ke daerah endemis. Pemberian vaksin Thypim perlu diulang setiap 3 tahun. Macam vaksin: antigen vi inaktif. Efektivitas 50-80%. Rute suntikan intramascular.

 

  1. Yellow fever

Vaksin ini dibawjibkan oleh WHO bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Afrika Selatan. Ulangan vaksinasi setiap 10 tahun. Macam vaksin: virus hidup dilemahkan. Efektivitas : tinggi. Rute suntikan subcutan.

  1. Japanese encephalitis

 

Untuk wisatawan yang akan bepergian ke daerah endemis (Asia) dan tinggal lebih dari 30 hari, atau akan tinggal lama di sana, terutama jika mereka melakukan aktivitas di pedesaan. Macam vaksin: virus inaktif. Efektivitas 91%. Rute suntikan subcutan.

 

  1. Rabies

Bukan imunisasi rutin, dianjurkan pada individu yang berisiko tinggi tertular (dokter hewan dan petugas yang bekerja dengan hean, pekerja laboratorium), wisatawan yang berkunjung ke daerah endemis yang berisiko kontak dengan hewan, dan individu yang tergigit binatang tersangka rabies. Macam vaksin: Virus yang dilemahkan, juga tersedia serum (Rabies Immune Globulin). Efektivitas vaksin 100%. Rute penyuntikan Intramuscular, subcutan. (ant)

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dokterharry © 2016 dokterharry.com