dokterharry

situs seputar kedokteran dan kesehatan

Peranan Bakteri untuk Pencegahan Kanker Kolorektal

Peranan Bakteri untuk Pencegahan Kanker Kolorektal. Kanker Kolorektal mengancam usia muda di Indonesia. Flora usus bekerja dalam berbagai cara dalam mencegah penyakit ini. Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyebutkan, kanker darah penyebab utama kematian di seluruh dunia, denga7,6 juta kematian (±13% dari total kematian) pada tahun 2008.

Kanker Kolorektal disebabkan gaya hidup dan pola makan

Yang mengkhawatirkan, sekitar 70% kematian terjadi pada negara berpenghasilan rendah-menengah. Sekitar 30% kematian kanker oleh lima risiko gaya hidup dan pola makan: tingginya indeks massa tubuh (IMT), rendahnya konsumsi buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, rokok dan konsumsi alkohol. Kematian akibat kanker diproyeksikan akan terus meningkat, dengan perkiraan 13,1 juta kematian pada 2030.

Salah satu kanker yang paling banyak terjadi yakni kanker kolorektal (kolon dan rektum) . secara umum, kanker ini menduduki peringkat 3 kanker terbanyak, peringkat 4 untuk kematian akibat kanker. Mortalitas dan morbiditas kanker kolorektal, diperkirakan mencapai 9% dari seluruh insiden kanker. Prevalensinya pada laki-laki mau pun perempuan relative sama.

Perbedaan Kanker Kolorektal di negara maju dan negara berkembang

Terdapat perbedaan besar antara karakteristik kanker kolorektal di negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dengan di Indonesia. Di Barat, kanker kolorektal banyak terjadi pada usia yang lebih lanjut; rerata 67 tahun. Hanya 3-8% terjadi di usia Di Indonesia, kanker kolorektal banya menyerang mereka yang berusia produktif ( Penelitian yang dilakukan Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH mengungkapkan, kanker kolorektal di Indonesia banyak berhubungan dengan proses inflamasi tersebut. Namun, secara umum, risiko kanker kolorektal sangat dipengaruhi oleh bahan karsinoogenik dari makanan, dan gaya hidup. Makanan yang dibakar seperti sate dan daging goreng, ditenggarai merupakan sumber karsinogenik yang “ampuh. Makanan tinggi lemak dan kolestrol seperti jeroan, juga dapat meningkatkan risiko. Sementara, makanan seperti ini menjadi kegemaran orang Indonesia.

Faktor Resiko Kanker Kolorektal

Selain tinggi lemak, makanan siap saji juga tinggi gula, garam, mengandung bahan pengawet dan perwarna, serta minim serat. Ini jenis makanan yang jelas tidk baik untuk kesehatan, dalam hal ini kesehatan usus. Masyarakat yang hidup di kota besar, perlu lebih berhati-hati karena memiliki faktor risiko yang lebih beragam; lima risiko yang meningkatkan kematian akibat kanker, banyak terdapat pada masyarakat perkotaan.

Umumnya, kanker kolorektal berasal dari adenoma yang awalnya membentuk polip. Bila ditemukan dalam kondisi ini, kanker kolorektal bisa dihindari karena polip mudah diangkat. Namun, karena tidak menimbulkan gejala apa pun, banyak tidak menyadari kehadirannya, hingga akhirnya polip berkembang menjadi ganas. Dalam perjalanannya, kanker kolorektal sering tidak menimbulkan gejala, atau gejala diabaikan karena dianggap tidak berarti. Gejala antara lain mencakup buang air besar (BAB) berdarah dan berlendir.

Sangat disayangkan, banyak pasien yang baru terdeteksi pada stadium 3. Padaha, sesungguhnya, kanker kolorektal bisa dideteksi dengan pemeriksaan sederhana colok dubur. Bila diperlukan, bisa dilakukan pemeriksaan kolonoskopi. Pasien juga perlu diedukasi untuk mengenali pola/kebiasaan BAB-nya. Bila terjdi perubahan pada frekuensi BAB dan konsistensi feses tanpa sebab yang jelas, perlu memeriksakan diri ke dokter. Apalagi bila sudah terjadi lebih dari 6 minggu.

Pengaruh bakteri usus mencegah Kanker Kolorektal

Lebih dari 80% sistem imun tubuh, berada di usus. Bila kondisi usus melemah, maka lemah pula pertahanan sistem imun tubuh, termasuk pertahanannya terhadap kanker. Pola makan yang kurang baik menurunkan fungsi usus, serta mengganggu keseimbangan populasi bakteri penghuni usus. Populasi bakteri yang bersifat pathogen meningkat, sebaliknya yang bersifat probiotik menyusut. Kondisi ini bisa menyebabkan infeksi, iritasi dan radang pada ususu, dan terjadi gangguan seperti diare, konstipasi, hingga kolitis ulseratif. Dalam jangka panjang, risiko kanker kolorektal mengintai karena infeksi dan radang bisa memicu pertumbuhan sel-sel kanker. Racun dan bisa mekanan yang menumpuk akibat konstipasi, sel-sel usus besar sehingga menjadi rentan terhadap kanker.

Bakteri yang bersifat probiotik seperti Lactobacillus, berperan menetralisir racun di usus dan mengurangi peradangan. Keseimbangan bakteri penting untuk menjaga motilitas usus, sehingga proses BAB lancar. Ini mencegah terjadinya tumpukan racun dan sisa makanan di usus. Secara lebih spesifik, bakteri ini ‘melatih’ system imun untuk mengenali sel-sel kanker dan membasminya, serta memicu terjadinya apoptosis pada sel-sel kanker. Juga ditengarai, bakteri probiotik dapat mengikat, menonaktifkan serta menurunkan kadar karsinogen di saluran cerna.

Asupan Probiotik untuk mencegah Kanker Kolorektal

Secara umum, probiotik memproduksi asam lemak bagi sel-sel usus besar, memroduksi senyawa antitumor dan antikarsinogenik, serta meningkatkan respon imun dan memperbaiki fungsi fisiologis host yang mengonsumsinya.
Asupan probiotik

Keseimbangan probiotik di usus, bisa dibantu dengan asupan probiotik dari luar. Berbagai penelitian menunjukkan manfaat asupan probiotik terhadap pencegahan kanker kolon. Di antaranya, studi yang dilakukan oleh Hideki Ishikawa, dll (2005), penelitian ini melibatkan 398 orang, yang telah bebas dari tumor kolorektal dan telah menjalani operasi pengangkatan tumor kolorektal sedikitnya dua kali. Mereka dibagi menjadi 4 kelompok: satu kelompok mendapat terapi berupa gandum utuh, kelompok lain mendapat L. casei Shirota strain, kelompok berikutnya mendapat keduanya, dan kelompok terakhir tidak diberi apa-apa. Selanjutnya, mereka menjalani pemeriksaan kolonoskopi untuk melihat, apakah ada tumor baru dalam 2 dan 4 tahun.

Setelah 4 tahun, kelompok yang mendapat gandum memiliki lebih banyak tumor berukuran besar. Sebaliknya, tumor derajat sedang-berat jauh lebih rendah pada mereka yang mendapat L, casei Shirota strain. Disimpulkan, L. casei Shirota strain mencegah atypia (sel-sel abnormal) pada tumor kolorektal. Riset yang dipublikasi di J Nutr (2000) menyebutkan, tampak bahwa probiotik, dengan atau tanpa prebiotik, memiliki efek inhibitori pada perkembangan lesi prakanker dan tumor pada model hewan.

Studi oleh Hayatsu dan Hayatsu (1993) meneliti efek L. casei Shirota strain terhadap mutagenisitas setelah konsumsi daging goreng. Penelitian melibatkan 6 orang sehat yang tidak merokok. Hasilnya menunjukkan, konsumsi L. casei Shirota strain menekan mutagenitas di urin.

L. casei Sihorta strain juga bekerja oada system imun, antara lain dengan meningkatkan sel NK yang bertugas membasmi sel tumor/kanker dan infeksi. Studi oleh Kazuyoshi Takeda dan Ko Okumura (2007) melibatkan 9 orang berusia lebih muda (30-45 tahun) dan 10 orang yang berusia lanjut (55-57 tahun). Mereka dibagi menjadi 2 kelompok: satu kelompok mendapat 4×1010 L. casei Shirota strain hidup setiap hari, dan kelompok lain mendapat plasebo (obat kosong), selama 3 minggu.
Pada kelompok usia lebih muda yang mendapat probiotik, aktivitas sel NK segera naik ketika konsumsi dimulai, dan tetap tinggi hingga 3 minggu kemudian. Uniknya, efek ini terlihat jelas pada mereka dengan sel NK rendah. Pada kelompok lansua yang mendapat plasebo aktivitas sel NK tampak turun. Sebaliknya, pada kelompok yang mendapat probiotik, L. casei Shirota strain tampak mempertahankan aktivitas sel NK.

Efek terhadap sel NK sebelumnya diteliti oleh Fumiko Nagao, dkk (2000), yang melibatkan 9 relawan sehat. Selama 3 minggu, mereka deprogram untuk mengonsumsi susu fermentasi yang mengandung L. casei Shirota strain. Hasilnya, terjadi peningkatan pada aktivitas sel NK, dan efeknya bertahan hingga 3 minggu berikutnya. Lagi-lagi, peningkatan sel NK terutama signifikan pada mereka dengan sel NK rendah.

Tiap strain probiotik memiliki manfaat spesifik, strain apa pun akan memicu pertumbuhan bakteri probiotik lain di usus. Yang penting, strain probiotik yang dikonsumsi tahan terhadap asam lambung dan cairan empedu, sehingga bisa mencapai usus dalam keadaan hidup. Studi oleh Norikatsu Yuki, dkk (1998) menginvestasi ketahanan L. casei Shirota strain dalam saluran cerna, menggunakan isolasi selektif dari feses dan mengindetifikasinya dengan antibody monoclonal. Dilakukan pemeriksaan feses dari orang-orang yang telah mengonsumsi 125ml susu fermentasi yang mengandung 1010 L. casei Shirota strain hidup selama 3 hari. Hasilnya, terdapat 107 L. casei Shirota strain hidup/gram feses, yang menunjukkan bahwa bakteri tersebut bisa bertahan di saluran cerna.

L. casei Shirota strain bekerja dalam berbagai cara sehingga efektif mencegah terjadinya kanker kolorektal. Lebih baik lagi bila dikombinasi dengan pola makan sehat (nid)

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dokterharry © 2016