dokterharry

situs seputar kedokteran dan kesehatan

GULA DARAH TINGGI KENCING MANIS DAN PENYAKIT JANTUNG

Berbagai penelitian memperlihatkan hubungan hiperglikemia dengan penyakit kardIovaskular. Namun, penelitian belum menemukan hubungan signifikan penerunan gula darah dengan penurunan kejadian kardiovaskular. Pasien dengan diabetes memiliki angka morbiditas dan mortalitas tinggi, yang dapat menurunkan harapan hidup 5-15 tahun (bergantung pada usia berapa mereka terdiagnosa). Ada bukti meyakinkan dari penelitian epidemiologis dan patofisiologis bahwa hiperglikemia saja memiliki dampak besar, pada terjadinya penyakit ini. Sebagaimana terlihat dalam penelitian klinis, menurunkan kadar gula darah dapat menurunkan kejadian penyakit jantung dan kematian yang disebabkannya.

FAKTOR RESIKO PENYAKIT JANTUNG

Sebagaimana diperluhatkan dalam multiple Risk Factor Intervention Trial, seberapa besar pun factor risiko penyakit jantung, diabetes dihubungkan mortalitas penyakit jantung dengan odd ratio 2-4, di bandingkan pasien non diabetes. Hasil-hasil ini kemudian dikonfirmasikan dalam penelitian European Prospective Investigation of Cancer and Nutrition (EPIC Norfolk), dan satu meta Analisa bernama Atherosclerosis Risk in Communities (ARC).

Lebih lanjut, penelitian follow up selama 18 tahun dari Finlandia menunjukan dampak yang sama dari diabetes tipe 1 dan 2, pada mortalitas penyakit jantung. Hazard ratio yang telah disesuaikan dibandingkan dengan subyek tanpa diabetes, dalam usia yang sama adalah 5,2 dan 4,9 untuk diabetes tipe 1 dan 2, secara berurutan.

Bukti-bukti ilmiah yang ada saat ini, berasal dari penelitian berbasis populasi pasien diabetes tipe 1 dan 2.  Bukti-bukti ini dengan jelas menunjukkan bahwa Kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) adalah faktor kunci, tidak hanya untuk penyakit terkait diabetes, tetapi juga penyakit jantung dan kematian akibat berbagai sebab. Berdasarkan obsevasi jangka panjang ini, bisa disimpulkan bahwa ada kenaikan risiko penyakit penyakit jantung di setiap peningkatan 1 unit (%) kadar AIC.

Patofisiologis Kadar gula darah tinggi (hiperglikemia)

Sebagaimana terlihat dalam berbagai penelitian prospektif, efek buruk kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) sudah mulai terjadi sebelum diabetes terdiagnosa. Dalam penelitian Glucose Tolerance in Acute Myocardial Infarction, yang melibatkan pasien dengan sindrom koroner akut, toleransi glukosa yang tidak normal adalah prediktor independen paling kuat untuk terjadinya komplikasi dan kematian penyakit jantung

Dalam Asian Pasific Study, glukosa plasma puasa diketahui suatu prediktor independen kejadian penyakit jantung. Namun, penelitian oleh Monnier dan kawan-kawan memperlihatkan bahwa fluktuasi kadar gula darah yang diukur sebagai ekskursi gula darah rata-rata, berhubungan erat dengan timbulnya stress oksidatif. Sementara kadar glikemik rata-rata tidak. Pada tahun 1999, penelitian Risk Factors in IGT for Atherosclerosis and Diabetes menunjukan, parameter variabilitas glikemia lebih berhubungan dengan ketebalan intima media dari pada A1c.

Saat ini, ada data konsisten dari penelitian patofisiologis bahwa fluktuasi glukosa merupakan factor risiko vaskular. Fluktuasi glukosa dan Kadar gula darah tinggi (hiperglikemia), adalah pemicu respon peradangan melalui peningkatan produksi superoksida di mitokondria dan stress reticulum endoplasmic. Respon peradangan yang diinduksi oleh satu episode Kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) jangka pendek dapat berlangsung selama beberapa hari.

Inflamasi menyebabkan resistensi insulin dan disfungsi sel beta, yang lebih lanjut memperburuk Kadar gula darah tinggi (hiperglikemia). Jalur molekuler yang mengintegrasi hiperlikemia, stress okisidatif dan komplikasi vascular diabetic, dapat dengan jelas terlihat dalam pathogenesis disfungsi endotel. Berdasarkan hipotesa respon terhadap injuri, disfungsi endotel adalah langkah awal dari proses aterogenesis.

Hasil penyelidikan molekuler ini telah diskonfirmasikan oleh penelitian-penelitian pada pasien. Kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) akut secara cepat menekan vasodilatasi dependen endothelium, dan menurunkan perfusi miokardial. Karena itu efek langsung glukotoksisitas, stress oksidatif dan inflamasi  grade rendah bekerja dalam lingkaran ‘setan’ yang mengganggu sensitifitas insulin, mempercepat dan meningkatkan penurunan sel beta, menganggu fungsi endotel, dan menyebabkan penyakit mikro dan makrovaskular.

Efek penurunan gula darah

Bukti-bukti patofisiologi dan epidemiologi menunjukkan hubungan langsung antar Kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) dan mortalitas penyakit jantung, atau kematian akibat berbagai sebab pada pasien diabetes tipe 2. Diharapkan, risiko ini dapat diturunkan dengan pengobatan yang dapat menurunkan gula darah. Meski demikian, hasil uji klinis berskala besar yang menyelidiki potensi strategis pengobatan penurun gula darah dalam mengurangi kejadian penyakit jantung  masih belum meyakinkan.

Tiga penelitian besar pada pasien dengan diabetes tipe 2 – Action to Control Cardiovascular Risk in Diabetes (AC-CORD), Action in Diabetes and Vascular Disease; Preterax and Diamicron Modified Release Controlled Evaluation (ADVANCE), dan veterans Affairs Diabetes Trial (VADT) – baru-baru ini dilakukan, untuk memperjelas apakah menurunkan glukosa darah sampai kadar mendekati normal akan mengurangi risiko penyakit jantung. Semua penelitian ini melibatkan pasien berusia tua dengan durasi diabetes 8-11,5 tahun. Sepertiga dari pasien memiliki riwayat penyakit penyakit jantung.

Hasilnya, pada kelompok yang mendapatkan pengobatan intensif berhasil mengendalikan kadar gula darah (ACCORD : A1C 6,4 vs 7,5 % ADVANCE : A1C 6,4 vs 7,0%; VADT : a1c 6,9 vs 8,5%, untuk pengobatan intensif vs pengobatan standar, secara berurutan), Tidak ada satu pun penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan, kejadian penyakit jantung antara pasien yang menerima pengobatan intensif dan mereka yang menerima perawatan standar.

Berbagai spekulasi menjelaskan, mengapa hasil penelitian-penelitian ini mengecewakan. Salah satunya menyatakan bahwa angka kematian  yang lebih tinggi, berhubungan dengan risiko hipoglikemia yang dimiliki kelompok yang mendapat pengobatan intensif. Namun, sebagaimana terlihat dalam penelitian oleh Hanefeld M dan kawan-kawan, angka kejadian hipogkemia tidak berhubungan pasti dengan Alc.

Yang menarik, beberapa hasil Analisa dari penelitian ACCORD, yang dihentikan lebih awal karena tingginya angka kematian pada kelompok pengobatan intensif, menunjukan penurunan mortalitas penyakit jantung pada pasien yang memang mencapai nilai target A1C 6,0%, dengan pengobatan intensif. Beberapa kondisi beseline dari pasien yang dilibatkan dalam penelitian ACCORD, mungkin berkontribusi terhadap kematian penyakit jantung. Misalnya, gagal jantung kongesif dan albuminuria/gangguan ginjal atau neuropati. Kondisi ini jelas meningkatkan risiko hipoglikemia dan kerusakan miokard, yang diinduksi hipoglikemia.

Aspek lain yang perlu dipertimbangkan adalah rendahnya angka kematian, terutama pada pasien yang diobati dengan terapi standar, dibanding pasien pada penelitian Steno-2. Temuan ini menunjukan bahwa pasien-pasien dalam penelitian tersebut penanganan yang baik terhadap gangguan-gangguan yang terjadi bersama (seperti hipertensi dan hyperlipidemia). Dan, mengendalikan gula dalam darah hanya berdampak sebagian terhadap kematian karena penyakit jantung.

Meski demikian, berdasarkan data epidemiologi, angka kematian pasien yang mendapat perawatan standar dalam penelitian ini masih dua kali lebih tinggi pada orang sehat. Sebuah meta-analisis terbaru dari penelitian interversi berskala besar pada diabetes tipe 2, setidaknya menunjukkan perbaikan signifikan kejadian penyakit jantung (ada penurunan 15 % per 1 % unit AIC selama 5 tahun pengobatan) tanpa menurunkan angka kematian.

Bagaimanapun, manfaat signifikan dari penurunan gula darah secara intensif terhadap kematian akibat berbagai sebab, dapat ditunjukkan pada pasien dengan diabetes tibe 2 baru selama follow up jangka panjang pasca Diabetes Intervention Study.

Lebih awal lebih baik

Diabetes Control and Complications Trial (DCCT) menunjukkan kecenderungan penurunan risiko 41% kejadian penyakit jantung, pada pasien diabetes tipe 1. Follow up selama 9 tahun pasca penelitian menunjukkan manfaat penyakit jantung.

UK Prospective Diabetes Study yang meneliti pesien yang baru terdiagnosa diabetes tipe 2, yang gagal menunjukkan penurunan kejadian penyakit jantung pada kelompok yang mendapat pengobatan intensif, dibanding pengobatan standar (risk reduction 16%, P = 0.052). Hanya pada subpopulasi pasien obesitas yang diobatis secara intensif dengan metformin, yang mendapat manfaat penyakit jantung.

Selama periode observasi 10 tahun dari UK Prospective Diabetes Study, menunjukkan adanya penurunan signifikan 15 % infark miokard dan 17 % kematian terkait diabetes pada pasien yang awalnya secara cak diberi pengobatan intensif. Hasil-hasil ini menunjukkan efek control gula darah yang baik, jika dilakukan pada stadium diabetes tipe 1 dan 2.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dokterharry © 2016