Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Refluks Gastroesofageal, D84 Oesphagus disease, ICD-10: K21.9 Gastro-oesophageal reflux disease without oesophagitis

Masalah Kesehatan GERD

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah mekanisme refluks melalui sfingter esofagus.

Hasil Anamnesis (Subjective) GERD

Keluhan Rasa panas dan terbakar di retrosternal atau epigastrik dan dapat menjalar ke leher disertai muntah, atau timbul rasa asam di mulut. Hal ini terjadi terutama setelah makan dengan volume besar dan berlemak. Keluhan ini diperberat dengan posisi berbaring terlentang. Keluhan ini juga dapat timbul oleh karena makanan berupa saos tomat, peppermint, coklat, kopi, dan alkohol. Keluhan sering muncul pada malam hari.
Faktor risiko Usia > 40 tahun, obesitas, kehamilan, merokok, konsumsi kopi, alkohol, coklat, makan berlemak, beberapa obat di antaranya nitrat, teofilin dan verapamil, pakaian yang ketat, atau pekerja yang sering mengangkat beban berat.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective) GERD

Pemeriksaan Fisik Tidak terdapat tanda spesifik untuk GERD. Tindakan untuk pemeriksaan adalah dengan pengisian kuesioner GERD. Bila hasilnya positif, maka dilakukan tes dengan pengobatan PPI (Proton Pump Inhibitor).

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis yang cermat. Kemudian untuk di pelayanan primer, pasien diterapi dengan PPI test, bila memberikan respon  positif terhadap terapi, maka diagnosis definitif GERD dapat disimpulkan.  Standar baku untuk diagnosis definitif GERD adalah dengan endoskopi saluran cerna bagian atas yaitu ditemukannya mucosal break di esophagus namun tindakan ini hanya dapat dilakukan oleh dokter spesialis yang memiliki kompetensi tersebut.

penyakit-gerd

Diagnosis Banding dan komplikasi

Diagnosis: Angina pektoris, Akhalasia, Dispepsia, Ulkus peptik, Ulkus duodenum, Pankreatitis. Komplikasi: Esofagitis, Ulkus esophagus, Perdarahan esofagus, Striktur esophagus, Barret’s esophagus, Adenokarsinoma, Batuk dan asma, Inflamasi faring dan laring, Aspirasi paru.

Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1. Terapi dengan medikamentosa dengan cara memberikan Proton Pump Inhibitor (PPI) dosis tinggi selama 7-14 hari. Bila terdapat perbaikan gejala yang signifikan (50-75%) maka diagnosis dapat ditegakkan sebagai GERD. PPI dosis tinggi berupa omeprazol 2×20 mg/hari dan lansoprazol 2x 30 mg/hari.

2. Setelah ditegakkan diagnosis GERD, obat dapat diteruskan sampai 4 minggu dan boleh ditambah dengan prokinetik seperti domperidon 3×10 mg.

3. Pada kondisi tidak tersedianya PPI, maka penggunaan H2 Blocker 2x/hari: simetidin 400-800 mg atau  ranitidin 150 mg  atau famotidin 20 mg.

Pemeriksaan penunjang dilakukan pada fasilitas layanan sekunder (rujukan) untuk endoskopi dan bila perlu biopsi

Konseling dan Edukasi Edukasi untuk melakukan modifikasi gaya hidup yaitu dengan mengurangi berat badan, berhenti merokok, tidak mengkonsumsi zat yang mengiritasi lambung seperti kafein, aspirin, dan alkohol. Posisi tidur sebaiknya dengan kepala yang lebih tinggi. Tidur minimal setelah 2 sampai 4 jam setelah makanan, makan dengan porsi kecil dan kurangi makanan yang berlemak.

Kriteria Rujukan

1. Pengobatan empirik tidak menunjukkan hasil

2. Pengobatan empirik menunjukkan hasil namun kambuh kembali

3. Adanya alarm symptom:

a. Berat badan menurun

b. Hematemesis melena

c. Disfagia (sulit menelan)

d. Odinofagia (sakit menelan)

e. Anemia

Peralatan
Kuesioner GERD

Prognosis
Prognosis umumnya bonam tetapi sangat tergantung dari kondisi pasien saat datang dan pengobatannya.

Referensi
Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit Refluks Gastroesofageal (Gastroesofageal Reflux Disease/GERD) Indonesia. 2004.

Loading...

1 Trackback / Pingback

  1. DADA TERASA PANAS DAN NYERI, PENYAKIT GERD YANG DIKIRA PENYAKIT JANTUNG – dokterharry

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*