PROGRAM DOTS DI INDONESIA

PROGRAM DOTS DI INDONESIA

Mengapa Program TB di Indonesia gagal? Hal ini disebabkan karena:

  1. Komitmen politik dan pendanaan kurang memadai.
  2. Organisasi pelayanan TB kurang memadai (kurang terakses oleh masyarakat, penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang standar, dan sebagainya).
  3. Tatalaksana kasus belum seluruhnya dilakukan secara baku (diagnosis dan paduan obat).
  4. Persepsi yang salah terhadap manfaat dan efektifitas BCG.
  5. Infrastruktur kesehatan yang belum memadai.
  6. Sistem jaminan kesehatan yang belum mencakup masyarakat secara merata.
  7. Masalah kesehatan lain yang dapat mempengaruhi beban TB seperti gizi buruk, merokok, diabetes.
  8. Dampak pandemi HIV.

APA ITU PROGRAM DOTS

DOTS memiliki kepanjangan Directly Observed Treatment Short. DOTS ini adalah pengobatan yang sesuai dengan rekomendasi WHO yang merupakan strategi yang cost effective, dan hal ini sudah terbukti dalam program nasional maupun di beberapa negara lainnya.

Program DOTS ini tidak akan berhasil jika hanya berjalan sendiri. Harus ada beberapa komponen yang harus dilengkapi dan dijalankan secara keseluruhan.

Lima Komponen Strategi DOTS

  1. Komitmen politis dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan dana. Komitmen pimpinaan yang tinggi mulai dari Pusat,Provinsi dan kabupaten/Kota sangat menentukan terhadap keberhasilan program TB. Komitmen ini meliputi kebijakan, keberpihakan, perhatian begitu juga dalam bentuk pendanaan untuk mendukung pelaksanaan program TB.
  2. Diagnosis TB dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopik Diagnosis TB dilakukan dengan pemeriksaan spesimen dahak. Pemeriksaan dahak dilakukan terhadap dahak terduga TB yaitu dahak Sewaktu pada waktu berkunjung ke faskes, dahak Pagi yang diambil pagi hari ketika di rumah dan dahak Sewaktu ketika datang ke faskes kembali (SPS) . Pemeriksaan dilakukan menggunakan mikroskopis setelah dibuat sediaan pada slide/obyekglas.
  3. Pengobatan dengan panduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Pengobatan menggunakan obat anti tuberkulosis (OAT) ,dengan lama pengobatan enem bulan. Dalam pengobatan harus ada pengawas minum obat. Hal ini diperlukan agar pasien minum obat secara rutin/ tidak putus selama jadwal waktu pengobatan. Pengawas minum obat dapat dilakukan oleh petugas kesehatan ,tokoh masyarakat atau keluarganya sendiri.
  4. Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu terjamin. Obat TB harus tersedia dalam jumlah yang cukup di setiap tingat administrasi dan faskes setiap waktu. Hal ini sangat penting agar tidak terjadi pasien putus berobat yang diakibatkan oleh ketersediaan obat.
  5. Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TB. Seluruh proses penemuan dan pengobatan terhadap pasien harus dicatat dan dilaporkan secara periodik sesuai ketentuan yang berlaku.

Sumber: Materi Inti I Pelatihan Jarak Jauh Program Penanggulangan Tuberkulosis (P2TB) Bagi Dokter Praktik Mandiri (DPM) tahun 2016.

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*