dokterharry

situs seputar kedokteran dan kesehatan

INA-CBG’S RUMAH SAKIT DAN BPJS

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menyatakan jumlah orang miskin yang harus ditanggung program Jamkesmas tahun 2013 terlalu banyak. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), hanya 29 juta orang yang miskin di Indonesia, namun yang ditanggung Jamkesmas sebanyak  86,4 juta orang. “Jumlah (peserta) yang ditanggung Jamkesmas saya rasa terlalu banyak. Mungkin sekarang banyak yang mengaku-ngaku miskin,” ujarnya sembari terbahak, di sela-sela Workshop Manajemen Rumah Sakit di Jakarta, Jumat (29/11).Paket pembayaran Indonesia Case Base Groups (Ina-CBGs) terus berubah dan terus menunjukkan kenaikan. Ditakutkan jika tarif Ina-CBGs terlalu tinggi, maka pada tahun 2014 nanti BPJS bakal mengalami kesulitan dan terancam bangkrut dalam dua tahun. Kepala National Casemix Center Kemenkes Bambang Wibowo mengatakan tarif Ina-CBGs terpaksa mengalami penyesuaian lantaran untuk mengakomodasi bakal beroperasinya BPJS Kesehatan pada 2014.

bpjs inacbgsTerlebih lagi Ina-CBGs dianggap tidak memperhitungkan tarif di Rumah Sakit swasta. Kendati Ina-CBGs mengalami kenaikan, ujarnya, sejatinya jumlah itu belum ideal. Ia mencontohkan transplantasi ginjal yang ditanggung dalam Ina-CBGs tahun ini Rp20 juta. Pada 2014 dinaikan jadi Rp250 juta. Padahal idealnya Rp300 juta.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH saat diskusi Tinjauan dan Kaleidoskop 2014 yang berlangsung di Hotel Haris, Tebet, Jakarta, Rabu (18/12/2013) menyampaikan Bila tidak diantisipasi, bisa diprediksi BPJS di tahun 2014 akan kisruh. Banyak goncangan, keluhan, ekslopitasi ketidakpuasan, campur aduk politik dan teknis kesehatan.

“Perlu antisipasi efek buruk dari kurang baiknya pengaturan rinci (iuran, pembayaran kapitasi, pembayaran INA-CBG’s (Indonesia Case Base Group), obat generik dan prosedur-prosedur yang menyulitkan seperti rujukan mengutamakan di dalam provinsi yang akan menjadi komoditas empuk politisi,” jelasnya. “Oleh karena itu, pemangku kepentingan yang peduli dengan perbaikan JKN atau Sistem kesehatan yang sakit kronis menjadi sangat penting pada 2014,” tambahnya.

Kendati program yang memungkinkan seluruh rakyat berobat secara gratis ini sudah mepet waktu pelaksanaannya, namun rumah sakit (RS) yang menjadi mitra JKN ternyata masih bertanya-tanya tentang harga paket layanan untuk pasien peserta JKN.

bpjs sjsnSejumlah rumah sakit di Yogyakarta, masih merasa kurang mendapatkan informasi yang rinci tentang teknis pelaksanaan JKN. Penyelenggara JKN adalah sebuah lembaga milik negara bernama BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. “Kami masih menunggu kepastian angka paket penjaminan untuk layanan kesehatan pasien JKN,” kata Kepala Seksi Penagihan RS Panti Rapih, Hindra Wiryanta, ketika ditemui Tribun, Selasa (17/12).

Menurut Kepala Humas RS Panti Rapih, Mateus Sujarwa, dengan rujukan Indonesia Case Based Groups (INA CBGs) yang akan diterapkan untuk pasien JKN, tidak dimungkinkan biaya pengobatan lebih dari harga paket yang ditetapkan oleh BPJS. BPJS telah mematok paket harga untuk penyakit tertentu pada tiap tingkatan Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK).

Padahal, lanjut Sujarwa, pada sistem yang berlaku selama ini oleh PT Askes, jika ternyata biaya total perawatan dan pengobatan melebihi angka paket yang ditetapkan, maka selisih akan ditanggung oleh pasien.

Sistem iuran yang dipakai sebelumnya juga memungkinkan pihak RS menegosiasikan besaran paket yang bisa diklaim dalam sebuah penanganan kesehatan. Sementara sejak 2014 mendatang, angka paket yang digunakan sudah tetap dan tidak dapat ditawar lagi.

Sumber berita:

  • http:/ /www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/11/29/3/197994/Banyak-yang-Mengaku-Miskin-Tertanggung-Jamkesmas-Bengkak
  • http:/ /health.liputan6.com/read/778457/kisruh-di-bidang-kesehatan-bakal-banyak-di-2014
  • http:/ /jogja.tribunnews.com/2013/12/19/rumah-sakit-masih-bertanya-tanya/
Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dokterharry © 2016 dokterharry.com