dokterharry

situs seputar kedokteran dan kesehatan

DOSA-DOSA DOKTER

DOSA-DOSA DOKTER. Tulisan saya ini layak untuk dibaca semua kalangan karena tulisan saya kali ini akan memuat dosa-dosa dokter yang banyak dilakukan di Rumah Sakit.

  • Dosa pertama: Dokter merasa lebih hebat dari montir.

Hal ini terkuak saat Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat mengatakan hal tersebut dalam acara seminar ‘Dekonstruksi Gerakan dan Pemikiran Hukum Progresif’ di Hotel Patra Jasa, Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 29/11/2013.

Arief Hidayat bahkan mengungkapkan hal seperti ini : “Dokter itu profesi paling enak. Yang menyembuhkan pasien itu Tuhan, tapi yang dapat honor malah dokter. Lalu kalau pasien sampai meninggal padahal sudah ditangani, dokter gampang saja tinggal bilang, ‘Ini sudah nasib, saya sudah berusaha sekuat tenaga’,” “Sedangkan montir mobil, kalau hasil kerjanya bagus maka kita bayar. Tapi kalau mobilnya malah tambah rusak, orang nggak akan bisa bilang, ‘ini sudah jadi takdir’, Komentar Arief disambut tawa sekitar 500 akademisi hukum yang memenuhi ruangan.” (detiknews 30/11/2013).

Seperti halnya mesin, tubuh manusia pun memiliki onderdil-onderdil kecil yang apabila rusak sedikit saja, maka pengaruhnya akan sangat besar sekali. Jika mesin rusak maka produktivitas akan menurun, jika tubuh manusia ada yang rusak maka produktivitas juga akan menurun. Mungkin yang membedakannya adalah; jika mesin sebelum akan dilakukan operasi harus dimatikan dulu mesinnya, karena akan sangat beresiko jika bongkar mesin saat mesin masih hidup (silahkan tanya montir jika tidak percaya). Maka pada manusia adalah sebaliknya, justru operasi bongkarannya harus saat manusia itu masih hidup (pasti beresiko sekali), hal ini mungkin yang membuat dokter merasa lebih hebat dari montir.

  • Dosa kedua: Dokter itu pekerjaan biasa, tapi mereka sok merasa seperti dewa

Dokter itu merasa seperti tahu segalanya. Apa pun yang dokter minta pasien harus menurut. Dokter itu belajar untuk menjadi dokter butuh waktu 6-8tahun, terus sekolah lagi menjadi spesialis, walaupun kita orang awam berusaha untuk memahami penyakit yang kita derita, tetap aja gak bakalan nyampe dengan pola pikir dokter spesialis. Tetapi, sepintar-pintar dokter, mereka juga bisa salah. Mari baca salah satu orang yang mengungkap kelemahan dokter ini: Dokter profesi hebat dan tidak pernah salah (Ninoy Karundeng). Menurut Ninoy dokter itu bukan profesi hebat, hanya pekerjaan biasa yang tetap bisa salah.

Saya sangat setuju sekali jika dokter itu hanya pekerjaan biasa saja. Hal ini berarti juga dokter itu berhak untuk mengeluh, berhak untuk mengeluarkan pendapatnya, berhak mendapatkan perlindungan hukum dan berhak untuk mendapatkan balas jasa berupa uang untuk semua keringatnya. jadi, jika dokter berdemo untuk menyuarakan aspirasinya, apakah perlu kita anggap sebagai sesuatu yang luar biasa?

  • Dosa ketiga. Dokter menarik uang kepada pasien

Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh detiknews yang headlinenya menuliskan: “Komisi IX Ingatkan Dokter Agar Tak Tarik Uang Muka dari Pasien”. “Tidak boleh minta uang di depan. Itu ada pasalnya dan ada sanksinya lho. Apabila gara-gara pasien tak bisa memberikan uang di depan kemudian pasien meninggal, maka hukumannya 10 tahun dan denda Rp 1 miliar,” kata Ketua Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/11/2013).

Keputusan panjar atau uang muka di rumah sakit sebenarnya mutlak adalah keputusan dari pihak manajemen rumah sakit, dalam sisi ini, dokter hanya sebagai pekerja biasa, mengikuti aturan rumah sakit yang jika kata Rumah Sakit kerjakan, maka dokter akan mengerjakan, dan jika kata Rumah Sakit jangan dikerjakan maka dokter tidak akan mengerjakannya. Seharusnya dalam kasus seperti ini, dokter tersebut harus langsung operasi saja, tidak perlu menunggu jaminan dari pihak keluarga. Hanya saja kita harus tahu bahwa tanggung jawab pembiayaan operasi waktu itu akan menjadi tanggung jawab dokter dan menjadi hutang dokter terhadap manajemen rumah sakit. Ini artinya dokter juga harus siap menerima konsekuensi terburuk, yaitu dipecat dari pekerjaannya karena melanggar aturan manajemen.

***

Sekedar mengutip: “Jika kejadian ini berulang, terutama di rumah sakit daerah, maka jangan salahkan dokter, tapi salahkan bupati, mengapa dia tidak urus rakyatnya kalau gara-gara biaya yang disalahkan dokter, salahkan bupati. Bupati menyetujui peraturan di RS, bupati tidak mampu menanggung seluruh pengobatan rakyatnya, mungkin bupati yang ada di sana mengemukakan berobat gratis. Dalam masalah administrasi keuangan tidak sependapat disalahkan dokter, salahkan bupati yang ada di daerah,” tutur dokter spesialis kandungan yang juga mantan anggota Komisi IX DPR Hakim Sorimuda Pohan seperti yang dikutip dari detiknews 27/11/2013

Loading...

Comments

Add a Comment
  1. pak arif ternyata gak butuh dokter tuh….mungkin kalo sakit beliau ke montir jadi infusnya bensin,sirup nya oli adan obat tabletnya baut sama gotri….

    1. beneeerrr tuuu huhft..

  2. 1 dosa anda: suka liat orang tapi lupa mengevaluasi diri

  3. Orang berpendidikan tapi pikirannya awam itu pak arief Hidayat. Buktinya klu dia sakit perginya ke montir.

  4. Dosa dengan salah tu beda dek…kalo anda mau bicara…anda harus bedakan antara speak dan talk tu beda…kalo baru belajar bukan gini caranya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dokterharry © 2016