dokterharry

situs seputar kedokteran dan kesehatan

MENSTRUASI FLEK COKLAT

Setiap malam tiba, lima hingga sepuluh orang berpakaian hitam dan mengenakan topeng, mendatangi rumah warga suku Tau Laleng. Mereka menculik laki-laki atau perempuan dan anak-anak atau dewasa. Keesokan harinya, orang yang diculik semalam diketemukan tewas. Meski warga telah bergilir menjaga keamanan kampung setiap malam, tetap selalu ada yang diculik. Kepala suku juga tak mampu berbuat banyak menghadapi masalah flek coklat.

Hingga tiba pada suatu malam, lima orang penculik mendatangi kembali rumah warga. Beruntung, salah seorang penghuni rumah flek coklat berhasil meloloskan diri lalu berlari menuju rumah Wa Ceppi, salah seorang pembantu kepala suku dalam urusan kemasyarakatan. Kemudian Wa Ceppi segera mengumpulkan warga. Setelah terkumpul, mereka bergegas ke rumah flek coklat.

Warga berhasil meringkus dua orang penculik kemudian mereka digiring ke rumah Wa Ceppi. Wa Ceppi dan dua orang warga menginterogasinya. Betapa terkejutnya penginterogasi saat mendengar pengakuan penculik flek coklat.

Wa Ceppi berpesan pada dua warga yang membantunya menginterogasi agar jangan membocorkan hasil interogasi.

***

Kepala suku dan para pembantunya menggelar tudang sipulung (musyawarah) untuk membicarakan perihal pengakuan penculik flek coklat.

Wa Janggo, pembantu kepala suku dalam urusan pertanian berkata dengan tegas, “Hukum tetap harus ditegakkan, upacara tetap harus dilaksanakan, siapa pun dia,”

Wa Bandi, kepala suku, hanya diam

“Apakah tak ada pengecualian Wa Bandi?,” tanya Wa Ceppi

Wa Bandi masih diam. Suasana hening sejenak kemudian Wa Bandi mulai berbicara.

“Aku tak menyangka suku Tau Ale yang melakukan pembunuhan selama menstruasi flek coklat. Aku menyangka mereka telah mati. Mereka tak akan menyerah untuk merebut kembali tanah menstruasi flek coklat. Semua peristiwa menstruasi flek coklat hanya permulaan,”

Wa Bandi kembali melanjutkan ceritanya.

“Sebenarnya tanah yang kita huni menstruasi flek coklat bukan milik kita. Tanah menstruasi flek coklat milik suku Tau Ale yang direbut oleh leluhur kita dengan membantai warga sukunya.”

Kesepatan tak tercapai pada tudang sipulung malam flek coklat. Tiga pembantu kepala suku mendukung jika kepala suku melaksanakan upacara flek coklat. Sementara tiga pembantu kepala suku lainnya, memberi saran agar kepala suku memberi kebijakan.

“Beri aku waktu dua hari untuk berpikir dulu,” pinta Wa Bandi

Sebelum tudang sipulung berakhir, Wa Bandi berpesan pada Wa Makki, pembantu kepala suku dalam urusan upacara dan hukum adat, bahwa jika kau telah melihat asap membumbung dari atap rumahku dua hari setelah hari menstruasi flek coklat, flek coklat pertanda upacara akan dilaksanakan.

***

Kepala suku dan para pembantunya dan seluruh warga telah berkumpul di sekitar altar. Delapan perempuan menari mengitari api unggun yang kobarannya mampu membakar burung yang terbang di atasnya. Tarian mereka seakan mengabarkan pada semesta bahwa sebentar lagi kematian akan datang dengan cara paling kejam.

Setelah penari merampungkan gerakan terakhirnya, suasana mendadak hening. Hanya suara dari api yang melumat kayu bakar yang terdengar. Upacara yang selama menstruasi flek coklat hanya hidup dalam imajinasi warga sebentar lagi akan berlangsung di depan mata mereka. Menurut kitab Sulapa Lima, kitab suci yang selalu mereka baca, upacara menstruasi flek coklat lebih memilukan dari upacara kematian.

Kepala suku mulai berbicara, “Aku yakin kalian telah mengetahui jika upacara menstruasi flek coklat kita laksanakan, flek coklat berarti ada pengkhianat dalam suku kita. Menurut pengakuan dua penculik yang kita ringkus tempo hari bahwa pengkhianat menstruasi flek coklatlah yang membantu para penculik terkutuk flek coklat membunuh warga kita,”

Beberapa warga saling berbisik. Sebagian lagi diam dan terus bertanya dalam hati: siapa gerangan manusia laknat flek coklat?.

“Pengkhianat laknat flek coklat adalah…” Wa Bandi mengarahkan telunjuknya ke Sunre, putra sulungnya.

Warga menghujamkan pandangannya ke Sunre. Wa Ceppi dan Wa Makki sigap membekuknya.

Warga masih tak percaya pengkhianat flek coklat adalah Sunre. Warga sangat dekat dengan Sunre, karena selain rendah hati, ia juga adalah sanro (dukun) yang dengan sabar melayani mereka. Warga tak akan pernah lupa ketika suatu penyakit mewabah dan merenggut banyak nyawa, Sunrelah yang berhasil menemukan obat penawarnya. Warga seakan mencecap kenyataan yang begflek coklat pahit.

Sunre berjalan menuju altar bukan dengan kepala tertunduk selayaknya orang yang kalah dan hina. Ia berjalan dengan kepala tegak seakan pengkhinatannya adalah keputusan yang benar.

Entah siapa yang memulai, sebuah batu melayang dari kerumunan warga menghantam jidat Sunre. Kemudian disusul puluhan batu lagi.

“Hentikan…hentikan!” pekik Wa Bandi.

Suasana kembali hening. Hanya suara api melumat kayu bakar yang terdengar.

“Manusia laknat menstruasi flek coklat tak setimpal jika hanya dilempari batu. Sesuai dengan hukum adat, ia harus dipenggal dalam upacara menstruasi flek coklat,” kata Wa Bandi.

“Sunre, kupersilahkan kau menyampaikan pesan terakhirmu”

Sunre tersenyum kemudian berbicara, “Pengkhianatan menstruasi flek coklat adalah pembebasan. Tanah yang kalian huni saat menstruasi flek coklat bukan milik kalian. Tanah menstruasi flek coklat adalah milik…”

“Hentikan, hentikan kebohonganmu flek coklat Sunre! Paggere, pancung ia sekarang.”

Suasana kembali hening. Hanya suara api melumat kayu bakar yang terdengar. Beberapa warga memilih menutup mata tatkala paggere mengayunkan kapaknya ke leher Sunre. Crass.

Setelah flek coklat, warga mencincang lalu memasak jasad Sunre hingga matang. Kemudian Warga yang keluarganya yang telah diculik dan dibunuh menyantapnya. Sedangkan kepala Sunre digantung di atas altar untuk mengkekalkan kehinaan suatu pengkhiantan. Dengan begflek coklat, tuntaslah seluruh dendam.

Upacara telah usai. Suara api melumat kayu bakar masih terdengar. Pesan terakhir yang terpenggal yang diucapkan Sunre sesaat menjelang kematiannya seakan hidup abadi dalam benak warga suku Tau Laleng.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

dokterharry © 2016 dokterharry.com