Rujukan Berjenjang Bisa Tingkatkan Kematian

http://m.shnews.co/detile-3878-rujukan-berjenjang-bisa-tingkatkan-kematian.html
Rujukan Berjenjang Bisa Tingkatkan Kematian

Rencana sejumlah pemerintah daerah (pemda) untuk menerapkan rujukan berjenjang bagi pasien miskin dan tidak mampu dinilai bisa meningkatkan angka kematian. Rujukan berjenjang baru bisa dilakukan jika infrastruktur pendukung layanan kesehatan sudah tersedia dengan baik. Menurut mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari, rujukan berjenjang mewajibkan pasien untuk datang ke puskesmas terlebih dulu sebelum dirujuk ke rumah sakit daerah maupun pusat. Padahal, selama ini, dokter maupun tenaga medis di puskesmas masih belum mumpuni.

Dokter yang bertugas di puskesmas umumnya hanya dokter umum. Sangat jarang di puskesmas ada dokter spesialis. “Dokter umum itu tidak bisa mendeteksi penyakit dalam yang perlu penanganan segera. Bisa-bisa rekomendasinya salah, semua pasien dianggap sebagai pasien biasa,” katanya kepada SH, Senin (25/6).
Apalagi berdasarkan penelitian yang dibuatnya beberapa tahun lalu, ditemukan fakta hampir 60 persen dokter di Indonesia tidak bisa mendeteksi hipertensi (tekanan darah tinggi). Mereka hanya mengetahui, pasien memiliki tekanan darah tinggi melalui alat ukur. Namun, penyebab hipertensi tidak pernah bisa dideteksi.
Padahal, dekteksi itu sangat penting untuk mengetahui keterkaitan dengan organ tubuh lain. “Hipertensi sangat berhubungan dengan kardiovaskuler,” katanya.
Penyakit jantung saat ini masih menduduki peringkat teratas penyebab kematian. Setelah itu, penyakit stroke. “Hati-hati itu. Orang sakit jantung tidak bisa diperiksa sederhana di puskesmas. Karena ketidaktahuan dokter dia dianggap biasa saja. Padahal, butuh tindakan segera. Bisa mati itu mereka di puskesmas gara-gara tunggu antrean,” katanya.

Oleh karena itu, ia menilai rujukan berjenjang itu justru berpotensi menaikkan angka kematian. Keminiman pengetahuan dokter menyebabkan pasien penyakit dalam yang seharusnya segera dirujuk tidak mendapatkan rujukan dengan cepat. “Rujukan berjenjang bagus kalau infrastrukturnya bagus. Nanti angka kematian pasti akan naik drastis, perlu konsultasi lebih dulu. Apakah sistem ini untuk genosida? Di AS sistemnya sudah bagus makanya bisa jalan,” katanya. Sementara itu, Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jabodetabek Agung Nugroho menambahkan, rujukan berjenjang sangat bergantung pada kesiapan masyarakat dan koordinasi yang baik antar-rumah sakit. “Jangan sampai ketika dirujuk balik dari rumah sakit pusat ke rumah sakit daerah tidak ada kamar,” ujarnya.

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*