BAGAIMANA JIKA DIRI INI TERSERANG KANKER?

Oleh: dr. Restu Hidayasri

Sebuah nama berdengung melalui pengeras suara. Bersiap tegak lalu menuju sumber suara. Seorang petugas mengambil selembar kertas hasil pemeriksaan PA (patologi anatomi), lalu membuka dan memasukkannya kembali di dalam amplop. Sedikit tertangkap tulisan pada secarik kertas tersebut: Carcinoma …(bla-bla)! Pertanyaan meluncur dari petugas tadi, ini siapanya? Bagaimana keadaannya sekarang? Dan berbagai hal lainnya. Tercium apa yang dimaksud dalam tanda tanyanya.
Menerima kenyataan terserang kanker (carcinoma) bukanlah hal yang mudah, terlepas dari berapapun usia dan stadium kanker tersebut. Berbagai macam persepsi negatif dan hal momok lainnya selalu saja mengganggu. Kalau dikemoterapi nanti begini, rambut rontok, berat badan menyusut drastis dalam waktu yang singkat, dan yang lebih ektrim lagi—bisakah “bertahan” sejenak untuk menyelesaikan suatu hal saja?

Berbagai kalimat suportif sepertinya hanya menjadi angin lalu karena persepsi negatif yang terlebih dahulu membayangi, ditambah lagi penggunaan cermin kegagalan pada kasus sebelumnya yang berujung pada titik akhir: kematian!
Mungkin masih bisa mengatakan “tenang” agar si sakit tidak larut dalam kesedihannya. Mungkin masih sempat untuk memberi semangat agar tetap percaya dengan keajaiban. Mungkin pula masih terangguk untuk memberikan sebuah keyakinan bahwa ada hal yang jauh lebih penting daripada meratapi nasib—yakni bersyukur. Bersyukur bahwa masih diberi kesempatan memerbaiki untuk apapun yang bisa diperbaiki. Bersyukur masih diberikan “ancang-ancang” sebelum mencapai garis “finish” dan bersyukur masih bisa menjadi “kesempatan bersyukur” bagi mereka yang masih dalam keadaan “sehat wal afiat”.

“… dan nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?

Hal yang dipertanyakan dan sampai saat ini belum ditemukan jawabannya: Bagaimana bila diri ini yang berada dalam keadaan itu? Apakah tetap mampu menyuport sebagaimana awalnya? Apakah tetap mampu untuk mengusahakan agar tidak ada seorang pun yang terlarut dalam rasa yang berkecamuk adanya?
Lantas bagaimanakah sikap terbaik yang ditunjukkan pada sekitar agar mereka tak ikut merasakan apa yang dirasa? Apakah dengan bermuka ceria seolah tak terjadi apa-apa akan mengubah semua menjadi berwarna? Apakah dengan ketenangan tidak akan menggemuruhkan emosi mereka? Bilakah diri ini yang berada pada kondisi demikian, apakah hal tersebut sudah cukup adanya? Sampai saat ini, jawaban itu belum juga ditemui…

 

Biodata:

dr. Restu Hidayasri, sekarang bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Banyuasin, alamat facebook: http://www.facebook.com/rhidayasri, alamat blog: http://tutuq.multiply.com/

Loading...

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*