GIZI BURUK DAN PENGOBATAN GRATIS

Oleh: dr. Harry Wahyudhy Utama
Penulis dan Pemerhati Kesehatan

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumsel periode Januari hingga Mei 2007 diketahui bahwa ada sebanyak 2.061 anak balita di Sumatera Selatan yang tercatat sebagai penderita gizi buruk dan 20.278 anak balita lainnya menderita kurang gizi dari total 193.782 anak balita. Pasien anak balita gizi buruk tersebut antara lain berasal dari Kabupaten Lahat, Prabumulih, dan Musi Rawas (Kompas, 6 Juni 2007). Selain itu, keprihatinan makin bertambah saat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Sahrul Muhammad menjelaskan hanya dalam waktu 10 hari pada bulan Maret ini sudah ada dua anak balita di Sumsel meninggal di rumah sakit akibat gizi buruk (http://jurnal-ekonomi.org, 4 April 2008 )

Apa yang kita baca di atas tersebut serupa dengan fenomena gunung es, dimana hanya sebagian kecil dari puncaknya yang terlihat di atas permukaan air, sementara sebagian besar, termasuk dasar gunungnya berada jauh di dalam permukaan air. Kasus gizi buruk yang kita baca di surat kabar tersebut hanyalah salah satu kasus yang terlihat di puncak gunung es diantara banyak kasus yang masih berada di bagian bawah permukaan. Hal ini disebabkan karena kasus gizi buruk tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, tetapi baru bisa terjadi setelah sang anak mengalami kekurangan asupan gizi yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Di telinga masyarakat kita sekarang ini sekarangpun sudah mulai akrab dengan segala sesuatu yang disebut gratis walaupun pada kenyataannya semua itu tidaklah gratis. Pasti ada nilai yang harus dibayar dan dikorbankan demi sesuatu yang gratis tersebut, seperti halnya pengobatan gratis yang selalu dielu-elukan kepada masyarakat. Janji pengobatan gratis yang dibawa oleh para calon pemimpin daerah, baik itu walikota, bupati hingga gubernur dianggap sebagai jawaban untuk mengatasi kasus gizi buruk dan sebagai solusi pemecahan masalah kesehatan masyarakat kita.

Tulisan ini dibuat adalah untuk mengingatkan sekaligus menggaris bawahi serta memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai pelayanan kesehatan yang seharusnya mereka dapatkan karena pada dasarnya ada tiga jenis pelayanan kesehatan yang harus ada pada masyarakat, yang pertama adalah tingkat promotif, yang kedua pada tingkat preventif, dan yang ketiga atau terakhir pada tingkat kuratif.

Satu, promotif. Promotif adalah suatu usaha pelayanan kesehatan lini pertama. Di sini para pelayan kesehatan bukan bertugas untuk mengobati. Mereka bertugas untuk memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai cara-cara hidup yang sehat, misalnya bagaimana cara membuang sampah yang benar, memberi tahu arti pentingnya membuat jamban di tiap-tiap rumah, memberi tahu arti penting pemberian ASI pada bayi, anjuran memakan makanan bergizi dan seimbang serta kegiatan-kegiatan lain yang inti bertujuan agar kesehatan fisik para masyarakat menjadi lebih sehat dan kuat dengan cara merubah gaya hidup masyarakat dengan gaya hidup yang lebih sehat.

Dua, preventif. Preventif adalah pelayanan kesehatan lini kedua dengan tujuan untuk mencegah masyarakat menjadi sakit. Di sini para pelayan kesehatan juga tidak bertugas untuk mengobati. Inti tugas mereka adalah agar masyarakat terhindar dari sakit atau tidak jadi sakit dengan cara pengenalan dini tentang suatu penyakit yang mungkin akan dialami oleh individu dalam suatu masyarakat tertentu. Contohnya saat merebaknya penyakit demam berdarah. Tugas para pelayan kesehatan adalah mencegah agar demam berdarah ini tidak menyebar sehingga tidak terjadi wabah dalam masyarakat. Pencegahan yang dilakukan antara lain dengan pembasmian sarang nyamuk dengan gerakan 3M dan pembagian bubuk abate serta identifikasi dini para penderita yang mengalami demam dan dicurigai menderita demam berdarah. Begitu juga halnya pada penyakit-penyakit lain seperti penyakit diare maupun penyakit infeksi lainnya.

Tiga, kuratif. Kuratif adalah pelayanan kesehatan lini terakhir dengan tujuan untuk mengobati masyarakat yang telah menjadi sakit. Pengobatan ini dengan mudah dapat kita dapatkan di puskesmas maupun rumah sakit. Para penderita dapat diobati dengan cukup memakan obat atau mungkin harus dirawat dirumah sakit sesuai dengan berat ringannya penyakit. Di sinilah layanan kesehatan di negara kita masih terus berkutat. Pelayanan kesehatan lini terakhir inilah yang paling banyak dipilih oleh beberapa calon pengabdi negara untuk dapat mengambil hati masyarakat.

Hubungan dari ketiga pelayanan kesehatan di atas digambarkan sebagai segitiga dengan promotif pada bagian atasnya, preventif di tengahnya dan kuratif pada bagian alasnya. Melihat dari bentuk segitiganya, maka dapat kita bayangkan bahwa biaya yang dihabiskan pada tingkat promotif lebih sedikit dibandingkan dengan biaya yang dihabiskan pada tingkat preventif, dan jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan biaya yang dihabiskan pada tingkat kuratif. Gambar segitiga seperti ini juga mewakili gambaran waktu maupun tenaga yang harus dikuras dan dihabiskan demi terciptanya suatu masyarakat yang sehat.

Dari gambaran inilah kita dapat menilai bahwa sebenarnya yang paling penting dari ketiganya adalah pelayanan pada tingkat promotif. Peningkatan frekuensi, efisiensi dan efektifitas pelayanan pada tingkat promotif ini dipastikan akan menurunkan jumlah masyarakat yang sakit sehingga pada akhirnya bisa menekan biaya yang harus dikeluarkan demi pengobatan. Selain biaya, pem-fokusan pelayanan kesehatan pada lini pertama dan kedua akan mengurangi jumlah tenaga kesehatan yang diperlukan maupun waktu yang harus dihabiskan demi merawat pasien.

Perlu diketahui pula bahwa salah satu poin penting untuk menilai kemajuan dalam bidang kesehatan bukan dilihat dari banyaknya seseorang yang mendatangi pusat layanan kesehatan untuk mengobati penyakitnya tetapi dinilai dari peningkatan pemahaman masyarakat tentang arti hidup sehat dan perubahan gaya hidup serta ketaatan tiap masyarakat untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan tempat tinggalnya sehingga statistik masyarakat yang mendatangi pusat-pusat pengobatan menurun dari bulan-bulan sebelumnya.

Pun demikian halnya pemikiran pengobatan gratis bagi masyarakat miskin. Jika kita hanya memfokuskan pada pengobatan atau lini terakhir bagi si miskin, maka tidak perlu menunggu lama hingga si miskin akan menjadi sakit kembali. Baik si miskin maupun pelayan kesehatan akan terjerat dalam suatu siklus lingkaran setan yang terus berulang. Tetapi tidak jika kita memfokuskan pada lini pertama dan lini kedua. Saat itu kita akan mengetahui jika yang menjadi inti permasalahan adalah bukan pada sakitnya tetapi pada apa yang menyebabkan sakitnya masyarakat miskin tersebut, misalnya lingkungan yang kotor, pemukiman yang super padat, selokan yang digenangi air, maupun penggunaan air sungai sebagai jamban umum. Perbaikan dari inti permasalahan seperti inilah yang mampu memecahkan rangkaian lingkaran setan yang selama ini membelenggu kita.

Puskesmas sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat dibantu dengan adanya Posyandu, sangat diharapkan mampu menjalankan pelayanan kesehatan ini dengan baik dan terpadu. Arti pentingnya lini pertama dan kedua ini tampaknya mulai disadari salah satunya oleh Pemerintah Kecamatan Ilir Timur II dengan mengaktifkan 107 posyandu mandiri yang menurut Drs Faizal AR, pada tanggal 9 April yang lalu mengatakan bahwa salah satu fungsinya adalah untuk mengantisipasi dan menekan terjadinya kasus gizi buruk. Program pengaktifan pusat-pusat pelayanan kesehatan seperti ini sangat penting karena akan mampu mendeteksi dini anak-anak dengan gizi kurang. Dengan program yang lengkap dan tepat sasaran sangat diharapkan tiap-tiap anak di negeri kita mendapatkan gizi yang baik sehingga pada akhirnya fenomena gunung es akan hilang dan tidak terjadi kembali.

Karena itulah, alangkah lebih baiknya dana pengobatan gratis dialihkan untuk memperbanyak pusat-pusat layanan kesehatan dengan diiringi peningkatan pemberian kualitas pelayanan kesehatan, terutama layanan promotif dan preventif. Setelah kita berhasil menangani kasus gizi buruk dan infeksi, maka kita dapat melebarkan lingkup pelayanan kesehatan dengan lingkup yang lebih besar dan luas lagi pada penyakit non infeksi seperti penyakit keganasan atau yang biasa kita sebut dengan penyakit kanker.

Loading...

13 Komentar

  1. Salam…

    Setuju!
    Prinsipnya dimana-mana sama: cegah lebaih afdol ketimbang mengobati!
    Tetapi membincangkan pelayanan kesehatan – dimanapun lininya kuratif, preventif, dan kuratif – asal masih di Indonesia hampir selalu berujung kepada kekecewaan.
    Lihat saja kasus DBD yang hampir selalu makan korban saban tahun.
    Konon, dulu sewaktu zaman Presiden Soekarno, untuk mengenyahkan Wabah Malaria, beliau sendiri yang jadi ketuanya untuk memburu dan membunuh anopheles sampai ke anak cucu! Jadi malaria jadi isu nasional juga sebagaimana new emerging force, dll. Dan hasilnya: malaria hanya ganas di Babel! Diwilayah lain, hanya sporadis belaka.
    Bagaimana Sekarang? DBD tak kunjung selesai… Gizi buruk makin menumpuk… Askeskin yang bocor… dan sebentar lagi Jamkesmas yang akan jadi sarang korupsi baru!
    Mengenai gizi buruk, ada berita menarik di RCTI bertajuk Seabad Melawan Kemiskinan. kalau tak salah yang disorot propinsi NTT (Nusa Tenggara Timur)… tahun 2007 lalu, di sana terjadi 600-an kasus gizi buruk yang akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Kamera menyorot dua hal yang bertolak belakang: 4 orang anak 4-5 tahunan yang memakan sup jagung dalam satu mangkuk dan pembangunan kantor gubernur yang menelan duit rakyat trilyunan. APBD daerah memang besar, tetapi 80% habis untuk: perjalanan pejabat, pengadaan inventaris kantor gubernur, mobil dinas, dll. Yang untuk rakyat? Hanya 20% dan itupun sudah disunat disana-sini.

    Jadi sebenarnya gizi buruk, DBD, flu burung, dan ratusan masalah kesehatan lain itu timbul bukan karena pendekatan yang salah. Orang Indonesia paling jago buat bikin metode! Pokok sebabnya adalah: pembikin aturan dan pelaksananya! PEMERINTAHNYA!

    Jadi… sebenarnya: DBD bisa teratasi kalau pemerintah serius, gizi buruk bisa hilang baik dalam angka maupun fakta kalau pemerintahnya punya mental pejuang sejati, yang 100% masa jabatannya diabdikan untuk kesejahteraan rakyatnya. Tetapi bila semua isi kepala para pengambil keputusan hanya uang, uang dan uang. Maka, Pendekatan 3 Lini yang dikuliahkan dengan sangat baik oleh Dr. Tan Malaka dikelas-kelas IKM FK UNSRI itu, hanya tinggal mimpi!

  2. aq suka dengan 3 kata tersebut
    sebelum mereka menjabat , mereka harus tau bagaimana cara mengatasi kemiskinan ,kelaparan,pengangguran,kriminal,penyakit,dll
    jadi para penjabat tu ga cuma bisa teori aja tapi di ikuti dengan praktek nya
    makasih aq suka dengan artikel nya

  3. tulisannya bagus,tapi saya sarankan diperbaiki lagi karena kurang komplit.apalagi dikasih cara-cara yang jitu dan mudah untuk mendeteksi gizi buruk pada anak-anak.

  4. setuju, kepahaman akan kesehatan itu penting bagi masyarakat, baru saja tetangga saya, cucunya meninggal, hanya gara2 buang air sehari an saja … seandainya penanganannya lebih cepat ..

  5. kenapa rakyat menengah kebawah jika di bwh ke suatu pelayanan kesehatan……tindakan yang di berikan sangat berbeda ,,,pada orng yang berada… padahal kptsan pemerintah ingin memberikan suatu pelayanan yang terbaik bg rakyatnya…..man buktinya..apa hnya berpidato sj upaya di dengar oleh pemimpin negara?

Tinggalkan Balasan ke umi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*